Saturday, October 29, 2005

Batu Berguling Itu Tidak Bisa Saya Beli

Ada Converse bermotif The Rolling Stones!

Berita gembira itu saya dengar tiga hari yang lalu dari Cupi, teman saya, yang juga Stones Lover. Dia melihatnya di display pintu masuk Mal Taman Anggrek. Sebagai sesama Stones Lover tentu saja ini harus segera dicek.

Maka, berangkatlah kami tadi siang ke sana. Sepatu itu ada di Rockets. Toko yang memang menjual pakaian unik dan termasuk langka. Tapi mahal. Kami pikir, semahal-mahalnya sepatu itu, sekitar Rp 500 ribu.

Ah, biarlah. Mahal sedikit. Toh, ini sepatu bermotif The Rolling Stones! Kelompok musik pujaan kami. Tidak apa-apa. Sebanding kok. Begitu pikir kami.

Sesampainya di Rockets. Kami bertambah gembira. Karena ternyata ada dua warna. Yang dilihat si Cupi berwarna pink lembut. Yang ada di toko itu, berwarna hitam. Berarti kami tidak harus memakai sepatu yang sama. Begitu pikir kami kemudian.

Saya langsung mengambil sepatu itu dari display. Dan ternyata. Harganya nyaris SATU JUTA RUPIAH! Buyarlah semua kegembiraan itu. Sialan. Menghabiskan uang satu juta rupiah untuk sepatu Converse? Hmm. Kami pikir-pikir dulu deh. Kalo untuk sepatu boots Underground sih masih mungkin. Karena kekuatannya sudah terbukti.

Tapi sepatu Converse? Memang keren. Tapi kadang gampang sekali terbuka lem-nya. Dan SATU JUTA? Kami pikir tidak. Maka kami ucapkan selamat tinggal kepada Converse The Rolling Stones.

Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa. Semoga saja sepatu itu diproduksi lebih banyak lagi. Supaya harganya jadi tidak semahal itu. Atau, semoga saja kami mendapat undian yang hadiahnya jutaan rupiah. Nah, satu juta nya bisa dipakai buat beli itu.

Dream on. Dream on.

Saturday, October 22, 2005

Saya Ingin Menulis, Tapi Apa yang Harus Saya Tulis?

"Leh, mana tulisannya?"

Kata Aris, teman kerja yang duduk di sebelah saya. Dia bertanya soal blog saya yang belakangan ini jadi lebih sepi. Maklum, blog dia tidak pernah sepi dari tulisan. Tidak juga pernah sepi dari kunjungan orang. Malah, Koran Seputar Indonesia pernah menganugerahi "Blog of The Week" buat blog dia. Salman Aristo, story teller, yang sudah pernah menulis buat layar lebar. Yang sepertinya, semua cerita dalam hidupnya, bisa dia tulis dengan mudah.

Kalau begini, yang jadi pertanyaan saya. Apakah hidup saya yang tidak menarik? Atau saya yang tidak bisa menuliskannya jadi sesuatu yang menarik buat orang lain?

Bukan cuma Aris, teman saya yang lain, mempertanyakan juga soal saya yang sekarang jarang menulis di sini. "Terlalu asik pacaran," tuduh mereka. Memang, akhirnya timbul juga pertanyaan lain. Apa benar saya jarang menulis karena terlalu asik pacaran? Atau, ini semata-mata karena saya sedang malas untuk menulis saja.

Bagaimana menurutmu?

Tuesday, October 04, 2005

1 Oktober

1965.
Kesaktian Pancasila, katanya. Padahal, dini harinya, ada G 30 S/PKI.

40 tahun kemudian...

2005.
BBM naik tinggi. Benar-benar tinggi. Bom meledak lagi di Bali.

Ikut bersedih. Mungkin benar kata salah satu majalah yang saya lihat sekilas kemarin, bukan Indonesia Raya, tapi Indonesia Lara.