Thursday, August 30, 2007

Karena Berharap Terlalu Tinggi pada Urban Fest, Saya Sedikit Kecewa.




Di benak saya, acara Jumat hingga Minggu lalu [24 – 26/8] yang digelar di Pantai Carnaval, pasti punya panggung yang besar, dengan tata cahaya dan tata suara yang megah. Tapi, yang ada sebaliknya. Semua serba seadanya. Saya tak melihat stand-stand yang ada di sana, memang. Tapi, dari segi pertunjukkan musik, fasilitas yang diberikan seperti seadanya.

Saya datang jam tujuh malam, hari pertama. Jumlah penonton tidak sebanyak yang saya harapkan juga. Untuk sebuah festival, saya rasa itu terasa sepi. Saya tak tau pasti jumlah penontonnya berapa. Tapi, dari depan panggung, saya tak melihat penonton begitu membludak.

Mungkin karena jauh. Mungkin karena hari kerja. Mungkin karena sebagian besar penampil, masih bisa ditonton lain waktu. Di pensi, di klub kecil lainnya, atau di banyak gigs lainnya. Mungkin karena hari Sabtu, RCTI mengadakan acara di Senayan dengan para penampil yang kurang lebih hampir serupa.

Tapi, saya senang. Kelompok media sebesar Kompas sudah percaya pada kelompok-kelompok musik yang masih bisa dibilang underrated. Yah, mudah-mudahan ini pertanda baik. Walaupun perhatian mereka belum sebesar yang saya harapkan. Ya itu tadi, bisa dilihat dari panggung yang seadanya.

Atau mungkin, karena budget-nya harus dialokasikan untuk tiga hari. Jadinya, harus benar-benar mengirit biaya.

Sebagian besar para penampil, adalah jebolan IKJ. Bisa dimaklumi, karena penggagas acara itu, adalah Rektor IKJ. Jumat malam, ada Club 80’s, The Hydrant, The Changcuters, Shaggy Dog, Netral, dan The Upstairs.

Ternyata, jokes Tria, vokalis Changcuters bisa juga diterima publik Jakarta. Ini sepertinya bisa sedikit menepis keraguan sebagian orang mengenai bisa tidaknya jokes Tria yang kedaerahan diterima di luar Bandung.

Beres manggung, anak-anak The Changcuters dan The Hydrant saling bertegur sapa. Katanya, mereka saling mengagumi. Dan malam itu, kali pertama mereka bisa akhirnya bertemu. Manajernya masing-masing sih, sudah pernah saling bertemu sebelumnya.

Waktu Shaggy Dog manggung, beberapa orang skinheads, ikut bernyanyi di depan panggung.

"Oi! Oi! Oi! Skinheads, get your heads up!" [kurang lebih begitu yang terdengar di telinga saya]

Dian, backing vokal The Upstairs terlihat makin menarik saja. Hehe. Menurut saya, penampilan Dian malam itu, seksi sekali. :p

Dan karena sudah agak basi kejadiannya, saya jadi tak tau harus menulis apa lagi. Ini juga pengantarnya masih kurang baik menurut saya sebenarnya, tapi saya sudah terlalu malas memikirkan harus menulis apa lagi.

Ah, sudahlah. Silakan nikmati foto-fotonya. Kamera yang saya pakai kali ini, Olympus E-500. Padahal, sempat gembira sebelumnya, karena saya pikir akan memakai Canon 20 D, dengan lensa yang lebih bagus. Eh, kameranya dipake fotografer kantor. Mau meminjam yang Canon 5 D, tapi kasian fotografer satu lagi, kalau harus menunggu saya pulang malam.

Saya pulang jam setengah dua belas malam dari sana, karena Sabtu paginya harus berangkat bersama rombongan Seringai.

Ah, terlalu banyak menulis jadinya. Maafkan.

Wednesday, August 29, 2007

Rock Show, Punk Srimulat, dan Wisata Misteri




Jalan-jalan atas biaya orang lain memang selalu menyenangkan. Sabtu hingga Selasa kemarin, saya jalan-jalan lagi bersama rombongan Seringai.

Hari 1 [25/8] : Solo

Bandara Adi Sumarno, adalah bandara terkecil yang pernah saya datangi. Bahkan Stasiun Gambir lebih luas dari itu. Ini pertama kali saya naik pesawat ke Solo. Entah karena factor jalur bandara yang pendek, faktor pilot atau faktor usia pesawat yang membuat pendaratan pesawat tidak mulus. Ah, saya benci terbang.

Ini kota pertama dari rangkaian mini tur Seringai dalam rangka promo album "Serigala Militia." Begitu kami datang ke Solo, CD belum bisa dibawa, karena belum selesai dicetak. Sore hari, Alex, salah seorang kru dari manajemen datang membawa CD tersebut. Seringai main di acara Rock in Solo bersama Burger Kill dan band-band lokal lainnya. Ini kali kedua mereka main di acara Rock in Solo.

Saya baru kali ini, melihat rock show di velodrom [alias tempat balap sepeda]. Rasanya begitu juga dengan orang-orang Solo. Walaupun panggungnya biasa saja, apalagi pagar pembatasnya, tapi acara itu sepertinya cukup sukses kalau ukurannya jumlah penonton. Saya tak tau pasti, tapi dari atas panggung, velodrom itu terlihat penuh. Begitu juga dengan parkiran motor.

Seringai melakukan sesi wawancara di Solo Radio. “Kami sebenernya bukan siaran di jam ini, tapi karena Seringai yang mau dateng, kami diminta siaran. Soalnya, Seringai kan banyak orang media,” kata salah seorang dari penyiar itu.

Reputasi Seringai di radio daerah rupanya cukup mengerikan juga, sebagai narasumber. Ada salah satu radio [saya lupa nama radionya, dan di kota mana], yang tak mau didatangi Seringai, karena khawatir mereka mendominasi siaran, atau mungkin mengintimidasi.

Hari pertama sudah melelahkan. Baru tidur tiga jam, kami harus berangkat lagi. Jam enam pagi, kami meluncur ke Semarang.

Hari 2 [26/8]: Semarang

MOSH! Magazine yang mengundang Seringai. Ini majalah musik buatan anak-anak Semarang. Owner-nya, Suryo masih kuliah di Universitas Diponegoro. Pemiliknya dia bersama seorang teman. Tata letak majalah itu, terlihat sangat terpengaruh Ripple.

Venue-nya ada di kawasan kota lama Semarang. Kalau kamu tau sungai di area kota tua itu, nah venue-nya ada di salah satu bangunan di dekat sungai itu. Sepertinya itu juga merangkap sebagai studio untuk syuting. Kecil, tapi asik. Mengingatkan pada suasana Parc. Acara digelar dari tengah hari, hingga sebelum jam lima sore. Kata Suryo, setiap ada acara di sana, memang selalu berakhir sore hari. Ada hubungannya dengan preman-preman lokal. Saya lupa tepatnya karena apa.

Kalau di Solo, crowd-nya tidak banyak bergerak, hanya sebagian kecil saja [entah karena sudah terlalu lelah digeber Burger Kill, atau karena lapangan yang berdebu membuat orang-orang berpikir dua kali untuk loncat-loncat], di Semarang semua enerjik. Semua melompat. Semua bernyanyi. Saling tubruk. Tapi, tak ada yang emosi. Menyenangkan sekali. Rupanya mereka sudah tau benar seperti apa rock show.

Alex mencoba curi perhatian di sana. Dia yang ditugaskan menjual merchandise, begitu kami datang, malah terlihat di panggung. Nimbrung bersama dua MC perempuan yang garing, tapi jadi dimaafkan karena postur tubuhnya. Hehe. Di tengah-tengah lagu “Alkohol,” Alex menyemprotkan bir dari lantai atas. Dan dia pun lompat ke tengah crowd, dan melakukan crowd surfing. Untuk sesaat, perhatian crowd tertuju pada Alex. Satu lagi pemandangan crowd surfing yang menarik adalah ketika seorang remaja putri, tiba-tiba crowd surfing. Kami terpikat.

“Kriiik…Kriiik.”

Ingat film Warkop? Ada salah satu episode di mana mereka berkata ‘Jangkrik bos,” pada sang bos yang doyan perempuan. Nah, kode itu, juga kami pakai untuk saling memberi tahu kalau ada perempuan menarik terlihat. Semakin cantik perempuan itu, “Jangkrik” atau “Krik” akan semakin tegas. Atau, kalau sudah sangat cantik, maka [gunakan logat Perancis] Le Jean Crique akan dipakai.

Rombongan The Upstairs juga bermain di Semarang, sehari sebelumnya. Wenz mengabarkan kalau mereka mengunjungi Lawang Sewu dini hari itu. Kami jadi ikut penasaran. Apalagi kalau mengingat mereka berani datang ke sana, masa’ rombongan Seringai tak berani?

Masa’ Disko Doom kalah sama Disko Darurat?

Apalagi sebelum berangkat ke Lawang Sewu, kami baru tau kalau semua kru Seringai pernah merasakan sel. Ada yang pernah menusuk orang, serta ada yang pernah ditusuk. Alex [yang mengaku sebagai punk fashion karena harus dandan dulu setelah mandi], pernah masuk sel selama 12 hari karena pengeroyokan. Dia pernah menusuk orang, gara-gara dipalak. Jam tangan pemberian bapaknya dipalak orang, karena sakit hati, dia menusuk paha orang itu, lalu lari.

“Gue nggak berani nusuk dada, takut orangnya mati,” kata Alex.

Roni [teknisi gitar yang berwajah mirip Eross], Joni [teknisi bass], dan Pacung [teknisi drum], semuanya anak STM. Sebagai siswa STM tahun ’90-an mereka pernah terlibat tawuran dan pernah merasakan sel.

Joni, anak STM Karya Nugraha, pernah masuk ke dalam Metro Mini, membawa clurit, dan membabat anak-anak Boedoet yang ada di dalamnya. Joni juga pernah ditusuk dari belakang. Pacung anak STM Penerbangan. Roni, saya lupa. Yang jelas, Roni juga pernah diciduk aparat karena terlibat tawuran.

“I love my crew!” kata Khemod sambil tertawa ketika mendengar cerita mereka.

Makanya, masa’ berkelahi sering, tapi takut sama hantu? Dan berangkatlah kami ke Lawang Sewu. Rasanya cuma Arian dan Dawo yang tidak takut di sana. Kami sih, cukup terintimidasi. Begitu menyusuri bangunan yang sebenarnya indah secara arsitektur itu, kami berjalan dengan saling merapat. Mungkin kalau mau membentuk kekompakan kelompok, masuk tempat seperti Lawang Sewu bisa dicoba.

Percaya tidak percaya sebetulnya. Saya dan beberapa orang termasuk yang percaya kami melihat sesuatu. Sosok putih, seperti kain melayang-layang naik turun di ujung lorong. Arian yakin kalau itu hanya pantulan dari cahaya di luar.

Selain itu, saya tak melihat apa-apa. Padahal, kata anak MOSH! yang sebelumnya mengantar The Upstairs [minus Jimi, yang katanya takut dan memilih tinggal di hotel], mereka melihat banyak hal; kuntilanak, sosok yang ngesot, hingga genderuwo.

“Yang dateng setan juga, jadinya setannya nggak berani,” kata Dawo tertawa.

Pulang dari Lawang Sewu, kami menemukan dua punk rock terkapar di Wisma. Sebelumnya mereka mengocok perut kami karena kelakuannya. Begini jadinya kalau menggabungkan dua punk kocak dengan dua botol anggur.

“Gue nggak tau artinya punk apa. Ini juga gara-gara disuruh temen. Udah, elu jadi punk aja. Eh taunya nggak enak jadi punk. Ke mana-mana harus naek truk,” kata Munir sambil mabuk.

Mereka terkapar hingga pagi hari.

Hari 3 [27/8]: Jogja.

Di perjalanan menuju Jogja, salah satu mobil yang membawa alat-alat ditilang polisi, dengan alasan kelebihan beban. Dia meminta uang, tapi si panitia memilih tilang. Sampai di Jogja, rutinitasnya lagi-lagi serupa. Sound check, dan wawancara radio sebelum manggung. Baru tiga hari saja, sudah melelahkan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya band yang tur 30 kota, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja.

Liquid nama club tempat Seringai manggung malam itu. Belum pernah ada rock show digelar di sana. Kata Gufi, salah seorang panitia, acara malam itu merupakan presentasi panitia. Kalau mereka bisa mendatangkan 500 orang, mereka boleh mengadakan rock show lagi di sana.

Ternyata, 520 orang yang datang malam itu. Mas General Manager tersenyum puas.

Pulang dari Liquid, kami dibawa ke tempat makan. Kami menumpang mobil yang disupiri gitaris Southern Beach Terror, Bowo. Dia cukup absurd juga penampilan panggungnya. Banyak terkekeh seperti Beavis and Butthead. Di mobil, dia memutar lagu AC/DC.

Saya tak pernah mengira akan mengalami itu, tapi akhirnya terjadi juga.

Diiringi lagu-lagu dari AC/DC, kami mengangguk-anggukan kepala dan bernyanyi. Seperti adegan di film Wayne’s World atau film-film lain tentang dogol-dogol pecinta musik rock.

Tapi tetap saja, biarpun musiknya keras, adegan itu berlanjut dengan adegan makan gudeg.

Selasa siang, kami pulang. Jadwal pesawat Wings Air yang kami naiki rencananya 12.55. Begitu sampai di bandara, jadwal ditunda jadi 14.30. Kami mengunjungi Ambarukmo Plaza. Saya jadi teringat wawancara dengan Butet. Dia bilang, meskipun anak-anak Jogja maennya ke Ambarukmo Plaza, tetap saja, mereka makannya di angkringan.

Itu kunjungan pertama Gufi dan kawan-kawan.

“Ini jadi salah mesen minuman,” kata Gufi sambil tertawa ketika saya makan di food court.

14.10 sudah di bandara lagi. Ternyata, jadwal ditunda lagi menjadi 15.30.

16.00 pesawat belum juga tiba.

17.10 pesawat baru mendarat.

18.00 pesawat baru siap-siap take off.

19.00 ketika roda pesawat belum menyentuh landasan, HP salah seorang penumpang berbunyi.

Ah, rasanya pengen menampar bapak itu. Tapi karena terlalu lelah, bahkan tenaga untuk memarahinya pun malas saya keluarkan.

Thursday, August 23, 2007

Tentang Pelawak, Narkoba dan Bagaimana Perkenalan Itu Terjadi

Satu lagi pelawak tertangkap karena kasus narkoba.

Seperti biasa, setiap selebritis terkena kasus kriminal, mereka selalu menutupi kepalanya. Adegannya selalu sama. Beberapa orang polisi mengerubungi si artis tersangka. Si artis tersangka memakai topi, sambil menutup kepalanya—seakan-akan trik ini bisa menutupi identitasnya, padahal namanya disebut dengan jelas dalam tayangan itu. Lalu, setelah itu, adegan beralih ke konferensi pers. Wajah si artis tersangka sedih. Air matanya bercucuran. Lantas, keluarlah kalimat-kalimat penyesalan.

Kalau ini adegan dalam film, mungkin si penulis naskah hanya meng-copy paste dari naskah lama, tinggal mengganti nama dan tempatnya saja.

Yang saya heran, mereka yang tertangkap itu, sepertinya tak pernah terlihat seperti pemakai sebelumnya. Setidaknya tidak di mata orang awam ya. Lihat saja, Doyok, Polo, Deri. Sekarang Gogon. Memang mereka bermata sayu, tapi saya kira itu karena kurang tidur. Hehe. Mungkin juga, tekanan ke diri mereka begitu berat—harus membuat orang tertawa—hingga akhirnya mereka membutuhkan bantuan kimiawi untuk tetap bisa lucu.

Coba kita bandingkan dengan Slank beberapa tahun lalu. Bertahun-tahun mereka tampil di televisi. Bahkan rasanya orang awam pun, akan curiga kalau mereka on drugs. Mata sayu. Bicara terbata-bata. Tapi, mereka tidak pernah tertangkap. Apakah polisi jaman dulu, belum tahu banyak soal narkoba? Saya rasa tidak. Kalau orang awam, mungkin ya. Saya pernah bertanya soal ini pada Kaka Slank, dia menjawab begini;

“Gue nggak dengar juga jaman ’93 dan ’94, memang sudah ada gerakan anti narkoba? Gue pernah bawa mushroom di tas. Masuk X Ray kan? Nggak apa-apa. Berarti nggak tahu kan. Pernah bawa sabu, nggak apa-apa. Baru-baru aja, Ivan lupa naruh cimeng sedikit, terus masuk X Ray. Petugasnya bilang, ‘ah nggak apa-apa kalau sedikit mah’. Memang baik hati juga petugas dari dulu. Kalau mau ditangkap sih, [ada] berapa gram di kantong.”

“Berarti dari dulu petugas memang simpatik ya pada Slank?” tanya saya lagi.
“Sepertinya begitu. Padahal kalau mau dicekal, langsung dapet sepuluh gram seorang mah.”

Dan rasanya, selama ini, yang terlihat di televisi, lebih banyak berita soal pelawak tertangkap karena kasus narkoba, ketimbang musisi. Mungkin benar apa yang dikatakan David Naif, soal pelawak. “Di Indonesia tuh justru yang superstar, pelawak. Dibandingin penyanyi, masih lebih kaya pelawak. Lihat aja pelawak, ada yang mobilnya Hummer.”

Dan lihatlah pelawak. Satu lagi tertangkap karena kasus narkoba. Bisa jadi, kisah hidup mereka lebih rock n’ roll ketimbang rock star manapun di Indonesia. Hehe. Atau, ini salah satu indikasi, kalau pelawak tidak bisa main rapi. Sudah jelas-jelas, banyak teman mereka yang sudah tertangkap. Eh, mereka tidak belajar juga. Yah, minimal, kalau belum bisa berhenti. Berhati-hati lah. 

Polo, di salah satu tayangan infotainment, kurang lebih bilang, kalau mereka hanya korban kemodern-an jaman. Kalau begini, jadi seperti kisah klise. Orang kampung, datang ke kota, mengenal narkoba, akhirnya tertangkap polisi. Saya tak bisa membayangkan. Dari mana para pelawak itu mengenal drugs? Siapa yang mengenalkannya ya? Kalau Bob Dylan yang mengenalkan mariyuana pada the Beatles, lantas siapa yang mengenalkan Polo, Doyok, dan Gogon pada narkoba ya?

Kalau difilmkan, bagaimana adegannya ya? Apakah akan jadi adegan yang kocak penuh tawa, atau adegan yang psikedelik, seperti adegan tercebur dalam toilet lalu berenang-renang seperti di Trainspotting? Karena momen itu, yang akan mengubah hidup para pelawak itu selamanya.

Walau agak samara-samar, saya jadi teringat sebuah adegan ketika seorang teman berkenalan dengan mariyuana untuk pertamakalinya. Dia melihat temannya melinting ganja. Lantas membakarnya di kamarnya. Dia belum pernah mencobanya.

“Emang itu bisa bikin tidur ya?” kata dia.
“Bisa. Mau coba?” kata temannya.

Lantas dihisapnya ganja itu.

“Ah, mana? Nggak ngaruh kok,” katanya sambil menghisap lagi.

Si pemberi ganja hanya cengengesan.

“Nggak ada pengaruhnya ah,” kata si teman sambil menghisap lagi. Kali ini, dia menghisap sambil tiduran.

Tak berapa lama, dia tertidur pulas.

Thursday, August 16, 2007

I'm in Love With Her, and I Feel Fine

Besok 17 Agustus.

Berarti, saya sudah berpacaran selama dua tahun dengan Tetta Riyani Valentia. Tidak. Dia tidak lahir pada 14 Februari karena bernama belakang Valentia—seandainya ada yang berpikir begitu. Bahkan, kakaknya yang bernama belakang Valentina pun, tak lahir pada tanggal itu. Tapi, mereka berdua punya kebiasaan yang sama; menggosok-gosok hidungnya dengan telapak tangan, setiap kali gatal.

Seingat Tetta, kami bertemu pertama kali di suatu hari, ketika dia bersama temannya mewawancari Pemred Cosmo Girl! Waktu itu, saya masih kerja di majalah Trax. Saya ingat, bertemu junior di kampus, ketika keluar dari lift. Tapi, tak ingat wajah Tetta. Hehe. Lantas, saya bertemu lagi dengannya pada Java Jazz pertama. Tapi, waktu itu, belum meninggalkan kesan terlalu mendalam di benak. 

Hingga akhirnya, kami bertemu lagi di kampus. Waktu itu, saya diminta jadi pembicara di salah satu kelas. Tetta, yang waktu itu jadi panitia malam keakraban Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad, mendatangi saya untuk mengundang datang ke acara itu, sekaligus merekam pendapat saya soal acara itu, di kamera panitia.

“Manis juga,” pikir saya.

Selepas solat zuhur, tiba-tiba di luar mushola, ada Tetta dan Tia, seorang temannya yang meminta nomor kontak alumni Jurnalistik lainnya. Di situlah, momen itu terjadi. Saya melihat dia bersepatu Vans, tanpa memakai kaos kaki. Haha. Saya langsung jatuh cinta. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itu yang membuat saya jatuh cinta.

Dia memakai sepatu tanpa kaos kaki!

Entah kenapa, saya melihatnya sebagai sesuatu yang indah. Tidak. Saya bukan seorang shoe fetish. Saya hanya berpikir, berarti dia punya pribadi yang asik, cuek. Saya selalu menyukai sedikit sikap cuek dalam diri perempuan.

Saya tak ingin berpanjang lebar lagi, menceritakan bagaimana proses pendekatan itu. Yang jelas, Tuhan mendengar doa saya. Maklum, saya pernah sakit hati. Dan salah satu doa saya, adalah supaya bisa cepat sembuh dari sakit hati, dan menemukan perempuan yang bisa mengerti saya. Seakan-akan Tuhan menjawab doa saya, dengan mendatangkan dia ke musola, sehabis solat. Hehe.

Yang pasti, waktu saya meminta dia jadi pacar saya, tak seindah yang direncanakan. Karena kata-kata manis yang sebelumnya ada di kepala, langsung buyar, saking deg-degan dan gugupnya. Akhirnya, setelah ngalor ngidul beberapa menit, yang keluar hanyalah, “Mau jadi pacar gue nggak?”

Saya sempat mengira dia beragama Kristen. Karena waktu saya lihat profil Friendster-nya, saya baca kalau dia pernah bersekolah di SD Charitas. Untungnya salah satu posting dia di bulletin board menunjukkan kalau dia Islam. Ah, syukurlah. Bukan apa-apa. Saya tak mau mengejar perempuan yang berbeda agama. Takut repot. Kalau sudah jatuh cinta terlalu dalam, dan sama-sama tak bisa melanjutkan karena perbedaan agama, bagaimana?

Tetta anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya Jawa. Ibunya Padang. Mungkin itu sebabnya, kulit Tetta hitam manis tipikal gadis Jawa, tapi raut wajahnya tipikal orang Padang. Dia memang lebih mirip ibunya. Tapi, dia tak suka sambal. Untuk yang satu itu, gen Padangnya tak terlalu kuat.

Tetta tak suka ospek. Berbeda dengan saya, yang sangat mendukung sekali ospek. Saya memilih untuk tak berdebat soal ini. Karena biasanya, saya tetap memegang teguh pendapat saya, bahkan sedikit memaksakan kehendak. Dan dia pun tetap tak suka dengan ospek. Agak sedikit keras kepala, mungkin. Sama seperti saya sebenarnya. Makanya, kadang-kadang kalau sudah urusan keras kepala, saya seperti sedang bercermin. Untung saja, ini tidak terjadi secara harfiah. Soalnya, saya tak mau punya pacar yang wajahnya mirip saya. Hihi.

Tetta suka sekali Ash. Kalau kamu lihat account Multiply dia, di sana ada foto Charlotte Hatherley. Saya juga suka Charlotte Hatherley soalnya. Dan banyak gitaris perempuan lainnya. Kalo untuk musisi lokal, Syaharani masuk di urutan pertama yang Tetta sukai. Yah, selera musik salah satu yang jadi pertimbangan saya waktu memutuskan untuk mendekati dia. Walaupun sampai saat ini dia tak bisa menyukai The Ramones atau The Rolling Stones—padahal sudah saya kasih album Forty Licks sebagai gambaran. Hehe—setidaknya, dia bisa menyukai The Beatles. Dan karena di salah satu bulletin board dia menuliskan The Smiths [atau Morrissey ya?], saya waktu itu semakin senang. Haha.

Tetta suka sekali bunga, khususnya Lily putih, dan mawar biru [yang sampai sekarang belum pernah saya lihat.] Saya tidak terlalu suka bunga. :p Ini yang sampai sekarang, masih canggung saya lakukan. Memberi dia bunga. Waktu saya memberikan dia bunga pun, caranya tak tepat. Malah bertanya dulu, “Sayang, mau bunga nggak? Aku beliin ya.”

Saya baru tau belakangan, kalau sebaiknya saya tak bertanya dulu.

Tetta suka sekali jamur. Saya tak suka. Pada dasarnya, saya memang kadang suka pilih-pilih soal makanan. Kami pernah bertengkar karena ini. Waktu makan malam di rumahnya, ada menu gulai nangka [atau apapun itu namanya]. Saya tak suka nangka. Konsep buah-buahan dimakan dengan nasi, tak masuk di benak saya. Jangankan dengan nasi, makan nangka manis saja, saya sudah tak suka lagi. Dulu memang pernah suka. Dia marah, karena saya tak mau mencobanya sedikit pun. Saya tetap tak mau. Sekali tak suka, tetap tak suka. Saya memang begitu. Untuk mencoba pun, saya tak mau. Sampai saat ini, makanan yang saya tak suka dan memutuskan untuk mencoba, baru kerang kecil.

Kami jarang bertengkar. Kalaupun itu terjadi, pertengkaran kami selalu karena hal-hal kecil. Atau, karena perkataan saya yang salah. Seperti beberapa hari lalu, dia bercerita soal satu hal. Saya, malah menimpalinya dengan nasihat-nasihat. Padahal dia hanya mau didengarkan. Kalau bertengkar, biasanya kami hanya saling manyun. Saling jutek saja. Itu pun tak berlangsung lama.

Tetta memang tak suka digurui, atau diatur-atur. Dalam beberapa hal, lagi-lagi ini mengingatkan pada saya. Mungkin karena saya begitu, dan cenderung suka mengatur-atur, Tuhan memberi saya ‘lawan’ yang seimbang.

Tetta pernah jadi perokok. Waktu pedekate, saya sempat kaget. Dulu, saya tak ingin punya pacar perokok. Karena saya tak merokok. Tapi, karena waktu itu hati saya keburu bicara, maka prinsip pun bisa dikalahkan. Sekarang, dia tak lagi merokok—sesekali sih katanya pernah, tapi di belakang saya. Ini semua berawal ketika suatu hari Tetta sakit. Sambil menggigil, dia berkata, “Sayang, aku mau berhenti ngerokok ah. Tolong jagain janji aku ya.”

Dia selalu malu kalau saya ejek soal kejadian itu. Dan menyangkal itu pernah terjadi. Dia juga selalu malu, kalau saya ejek soal masa lalu dia, yang pernah mengagumi atlet bulu tangkis, Taufik Hidayat. Dia juga tak suka, kalau saya olok-olok soal dulu pernah mengagumi Hanson. Mmmbop! Syupidap. Syupidap. Mmmbop! :p

Hubungan Tetta dan keluarganya hangat sekali—walaupun dia kadang menganggap ayahnya menyebalkan, karena banyak omong. Setiap ada anggota keluarganya yang berulang tahun, pasti saling memberi selamat. Merayakan bersama. Saya tak seperti itu. Bahkan, saya sering lupa ulang tahun orangtua saya. Adik saya berulang tahun pun, tak saya beri ucapan selamat. Bukannya saya tak sayang keluarga saya. Saya suka geli, dengan proses-proses seperti itu. Kalaupun ada peringatan ulang tahun, paling di rumah mengadakan pengajian, makan-makan. Tapi, tak ada satu pun yang memberi ucapan selamat. Yah, mungkin pola komunikasinya seperti itu. Makanya, beberapa hal yang tak dilakukan dengan keluarga, saya lakukan di keluarganya Tetta.

Tetta senang sekali berbicara. Walaupun dia sering menuduh saya bawel, sebenarnya dia senang sekali berbicara. Dia bisa berbicara tanpa henti selama beberapa menit lewat telepon menceritakan kegiatannya selama sehari. Ini obat yang ampuh kalau saya sedang rindu dia. :D Dia juga senang menceritakan semua kegiatannya pada keluarganya. Itu sebabnya, keluarganya tau siapa teman-teman dia, meskipun mereka belum pernah bertemu si teman-teman itu.

Tapi, yang paling penting, Tetta mau mengerti saya. Dia mengerti kadang pacarnya minim uang kalau sudah memasuki minggu ke-3. Dia mengerti betapa pacarnya seorang cheap bastard. Dia mengerti bahwa pacarnya lebih suka naik angkot atau metro mini, karena jauh lebih menghemat ketimbang naik taksi—kecuali malam hari tentunya. 

Dia mengerti, bahwa saya sayang padanya, dan saya butuh disayangi juga. :p Mengutip lirik lagu I Feel Fine dari The Beatles, “I’m so glad that she’s my little girl…”

Wednesday, August 15, 2007

Masih Banyak Wartawan Pemalu

Saya rasa, masih banyak wartawan yang malu bertanya di depan forum.

Coba kamu sekali-kali datang ke konferensi pers launching album, atau semua yang berhubungan dengan musik deh. Karena tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya di beberapa konferensi pers yang berhubungan dengan musik.

Setelah ada presentasi soal album, atau konser, atau apapun itu acara hari itu, biasanya ada forum tanya jawab. Tidak jarang, moderator kesulitan mencari wartawan yang ingin bertanya di forum. Walaupun di beberapa konferensi pers, ada juga yang ramai bertanya.

Tapi, biasanya, setelah sesi tanya jawab ditutup, mereka—dugaan saya kebanyakan kru infotainment, dengan kamera-kameranya—berkerumun kembali di tempat lain, yang tak jauh dari meja tempat konferensi pers digelar. Lah, perasaan waktu tadi dibuka sesi tanya jawab, tak banyak yang menunjukkan ketertarikan untuk bertanya, waktu diberi kesempatan?

Kenapa mereka lebih suka menunggu setelah beres sesi tanya jawab formal yang sengaja disediakan penyelenggara? Kalau alasannya eksklusivitas, saya bisa mengerti. Kalau memang, wawancara tersendiri setelah konferensi pers itu, dilakukan hanya oleh si media dan narasumbernya, saya bisa mengerti.

Yang selama ini terjadi, mereka mengadakan wawancara itu bersama-sama juga. Dengan banyak kamera menyorot. Dengan banyak recorder di meja. Dan kutipan dari si narasumber, untuk banyak orang juga [buat yang belum tau, kenapa tayangan infotainment sama saja, dari pagi hingga sore, ini alasannya. Karena mereka selalu senang bergerombol.] Hanya bedanya, jarak antara si pewawancara dengan narasumber sangat dekat. Tanpa moderator. Tanpa suara si wartawan terdengar jelas di forum. 

Makanya, saya mengambil kesimpulan sembarangan. Masih banyak wartawan yang malu bertanya, atau berbicara di depan forum.

Monday, August 13, 2007

Superglad dan Seringai, oleh Soleh Solihun




Lagi-lagi, foto Seringai.

Maaf, kalau jadinya membosankan buat kamu [bukan berarti saya menganggap foto-foto ini membosankan ya, jangan salah sangka. takutnya, ada yang menganggap foto-foto ini membosankan.:p].

Sebagai fotografer multiply yang berdedikasi, sudah seperti menjadi kewajiban buat saya untuk mempublikasikan setiap hasil ‘liputan’. :p Bukan karena kebetulan, tentu saja foto Seringai lagi-lagi masuk multiply ini. Soalnya, mereka satu-satunya kelompok musik yang sering mengajak saya ke konsernya.

Tapi tenang. Kali ini, saya masukan juga foto Superglad. Cuma, karena kamera yang saya pakai malam itu, belum di-charge baterenya sehabis dipinjam teman, saya harus mengirit jepretan. Maaf saja kalau akhirnya Superglad cuma mendapat porsi sedikit.

Ini dari acara Terusik Traxustik di Mezza9, Pondok Indah Mall 2, Minggu [12/8] malam kemarin. Temanya; Indie-pendence edition. Saya tak tahu ide siapa untuk memakai judul indie-pendence itu. Tapi, prasangka buruk saya, karena LA Lights, si sponsor senang sekali dengan kata “indie”. :p

Tak terlalu banyak orang yang datang malam itu. Setidaknya, kalau mau dibandingkan dengan Traxustik yang saya datangi sebelumnya; edisi Pure Saturday di Citos, beberapa bulan lalu. Mungkin karena berbarengan dengan konser Suffocation di Ancol. Mungkin juga karena lokasinya di Pondok Indah. Atau, mungkin karena para penampil malam itu, tak berhasil menarik minat banyak orang. Selain Seringai dan Superglad, ada The Miskins dan Dagger Stab.

Saya menyaksikan langsung ‘Arian Mini’ yang pernah dimuat di multiply Ricky Siahaan. Anak yang memakai topi dengan lidahnya dibuka ke atas, bandana merah di leher, berkacamata dan berkaos hitam. Juga beberapa Arian mini lainnya—ada yang selain memakai bandana merah di leher, bahkan juga bercelana pendek kargo dan bersepatu vans. Gejala-gejala itu rupanya sudah makin terlihat. Fans Seringai sepertinya sudah mulai menemukan gaya berpakaian khas mereka. Waktu yang akan menjawab; apakah mereka akan menjadi ‘the next modern darlings?’

Yah, kabar baiknya, mungkin kalau itu terjadi, Seringai akan mendapat pemasukan signifikan dari penjualan merchandise mereka.

Friday, August 10, 2007

Bagaimana The Ramones Menemani Saya Ketika Galau

Inspirasi tulisan ini, dari tulisan reza si pelacurkorporat di http://pelacurkorporat.multiply.com/journal/item/234/Hope_Killers_and_No_Fillers?replies_read=11.

Dia memasukkan lagu She Talks to Rainbows dalam daftar lagu yang sedang didengarkannya belakangan ini. Saya jadi teringat, beberapa tahun lalu, betapa lagu The Ramones pernah menjadi salah satu soundtrack hidup saya. Jujur, saya hampir lupa, kalau lagu itu pernah juga jadi salah satu yang sering saya dengarkan ketika jaman galau dulu.

Tulisan ini [lagi-lagi] tentang patah hati. Bukan maksud saya ingin mengungkit-ungkit masa lalu. Jangan salah sangka ya. Saya sudah memaafkan dan mengikhlaskan beberapa kejadian patah hati itu.

Ada beberapa lagu dari beberapa kelompok musik, yang sering saya dengarkan ketika sedang kasmaran atau jatuh cinta. Ada juga lagu-lagu cengeng standar macam “Pupus” dari Dewa, yang ketika galau dulu saya dengarkan dan bisa sedikit menjadi obat. Tapi, tulisan ini tentang The Ramones dan beberapa lagu cinta mereka yang pernah menjadi obat kegalauan. Hehe.

Saya terlambat sekali mengenal The Ramones. Bukan apa-apa, sempat ada massanya, saya tak mau mendengarkan musik selain Iwan Fals dan Slank. Dan sebelum itu, sempat ada massanya, saya merasa berdosa mendengarkan musik. Ini karena ketika kelas satu [atau kelas dua] SMP, saya diikutkan pesantren kilat di Bogor. Walaupun di sana, saya lebih banyak tidur ketika pelajaran—dan ditutup dengan menjadi santri terbaik, setelah memenangkan lomba pidato—ada satu yang selalu saya ingat; MUSIK ITU HARAM!

Gila. Pulang dari sana, saya deg-degan. Ingin mendengarkan musik, ingin membeli kaset dari musisi Barat, takut. Doktrin mereka kuat sekali. Akhirnya, setelah berusaha mencari celah, saya pikir Iwan Fals mah tak apa-apa mungkin, karena dia Islam. Begitu juga dengan Slank. Yah begitulah. Hingga kuliah, saya tak pernah membeli kaset Barat. Kalaupun saya tahu, lagu-lagu Barat, itu karena teman-teman atau televisi.

Entah karena iman mulai luntur, atau rasa haus akan musik semakin kuat, mulai kuliah saya membeli kaset dan menelusuri musisi-musisi non Islam, yang menurut ajaran santri-santri, haram didengarkan.

The Ramones salah satu kelompok musik, yang begitu didengarkan pertama kali, langsung memberi sensasi tersendiri di dada. Seorang skinhead bernama Dido yang mengenalkan saya. Awalnya, karena saya selalu memakai jaket kulit ke kampus. Dia lantas mengajak saya jadi penyanyi tamu di band-nya. Dari sana, saya mulai mencintai The Ramones.

Dan setiap Joey menyanyikan lagu cinta, atau lagu patah hati, liukan-liukan vokalnya itu, menurut saya, kena sekali di hati. Lirik sedih, dinyanyikan Joey dengan nada seperti yang ingin menangis. Ada sedikit cengengnya. Tapi, tetap terasa jantan, punk rock. Makanya, lagu-lagu cengengnya, tidak menimbulkan perasaan bersalah ketika mendengarkannya. Haha. 

Ah, terlalu panjang back ground-nya. Maafkan.

Ketika kuliah, ada dua perempuan yang menjadi penyebab saya galau. Yang pertama; yang menolak saya dengan alasan saya enak dijadikan teman saja. Yang kedua; mantan saya. Dan ini beberapa lagu The Ramones, yang pernah setia menemani saya ketika hati saya dulu diacak-acak. :p

I Wanna Be Your Boyfriend.
Ini sih, lagu standar ketika baru-baru kasmaran. Biasanya, kalau baru naksir perempuan, suka membayangkan wajahnya. Dan lagu ini enak sekali untuk menjadi pengiring. Kamu tahu lah, perasaan itu. Deg-degan setiap membayangkan wajah si kecengan. Bertanya-tanya, apakah dia juga tertarik. Maunya buru-buru bertanya, apakah dia mau jadi pacar, tapi pedekate saja belum. Keberanian untuk ngajak jalan saja belum ada. Nah, nikmat sekali bertanya-tanya sambil bernyanyi sendiri di kamar,

Do you love me babe?
What do you say?
Do you love me babe?
What can I say?
Because I wanna be your boyfriend.

She’s A Sensation
Ini semacam penerus dari lagu sebelumnya. Maklumlah, membayangkan wajahnya saya, ada sensasi tersendiri.

She's a sensation
She looks a so fine
She's a sensation
She's a sensation
I'm gonna make her mine.

 
She’s The One
Nah, biasanya, setelah membayangkan, bertanya-tanya, dan perasaan itu semakin timbul, maka perasaan yang datang lagi adalah bahwa pikiran bahwa dialah yang selama ini dicari-cari. Haha. Akrab saja belum. Pedekate juga belum. Jadian juga belum. Dibutakan oleh perasaan kasmaran.

When I see her on the street
You know she makes my life complete
And you know I told you so
She's the one, she's the one.
 

She Talks to Rainbows
Saya pernah punya pacar yang extremely moody. Sering sekali tiba-tiba bete. Sering sekali tak mau berbicara dengan saya. Sering sekali tak mau dikunjungi di malam minggu. Setiap dia begitu, dan lagu ini saya dengarkan, maka saya merasa Joey Ramone tau benar perasaan saya. Lagu ini benar-benar mewakili perasaan saya waktu itu. Apalagi, ketika beberapa saat sebelum diputuskan, mantan saya itu tak mau bicara dengan saya cukup nyaris sebulan.

She talks to birds, she talks to angels
She talks to trees, she talks to bees
She don't talk to me.

Needles & Pins
Ini untuk suasana ketika baru saja ditolak atau diputuskan. Tiba-tiba, si perempuan melintas di depan mata. Nah, lagu ini tepat sekali untuk adegan itu. Saya kurang tahu, siapa penciptanya. Beberapa kelompok musik pernah membawakannya juga. Yang saya punya, selain versi The Ramones, versi Smokie. Tapi, cara Joey menyanyikan lagu ini, yang paling pas buat saya. Seperti yang sudah saya tulis di atas, dia seperti yang benar-benar sedih ketika menyanyikan lagu ini. Dan hampir seluruh liriknya, bisa mewakili perasaan saya.

I saw her today, I saw her face
It was the face I love, and I knew
I had to run away
And get down on my knees and pray, that they go away.

Dan ini bagian paling menyayat hati;

Why can't I stop, and tell myself I'm wrong, I'm wrong, so wrong
Why can't I stand up, and tell myself I'm strong.

Bye Bye Baby
Ini juga untuk suasana setelah diputuskan. Intro lagu ini benar-benar sedih. “Punkrock juga, kalau udah kena sama cewek mah, nangis ya?” kata seorang teman soal lagu ini. Walaupun di sini, Joey berkata “Don’t You Cry,” untuk si perempuan. Tetap saja, suasana dan liriknya saya rasa sangat tepat untuk menggambarkan kesedihan pria yang patah hati.

Woke up thinking bout you today
Why does it have to be this way
We drove each other crazy
Bye bye babe
Bye bye baby
Well I guess it's over and it's done
We had some good times and we had fun
We drove each other crazy.

Glad To See You Go

Konon, Dee Dee menulis lagu ini beberapa saat setelah diputuskan pacarnya. Dan lagu ini, untuk sisi saya yang berusaha melupakan perempuan yang menyakiti hati saya. Walaupun dulu, masih ada sakit hati itu, lagu ini jadinya lebih untuk pelarian dari kenyataan. Hehe. “Sudahlah, lupakan saja. Harusnya senang dia pergi,” begitu yang biasanya terlintas di kepala. Mendapatkannya kembali sudah tak mungkin, jadi lebih baik meyakinkan diri sendiri kalau dia lebih baik pergi.

You gotta go go go go goodbye
Glad to see you go go go go goodbye

...

Now I know the score I don't need you anymore
Don't want you cause you're a bore
I need somebody good, I need a miracle.


Sekarang sih, mendengarkan lagu-lagu di atas, tak memberikan efek apa-apa di hati, selain perasaan bahwa saya sangat menyukai The Ramones. Mungkin, kalau saya tetap mengikuti pelajaran dari pesantren kilat, dan tak mendengarkan musik-musik Barat, akan beda jadinya ketika saya mengalami patah hati. Mungkin lagu-lagu nasyid, atau penggalan hadits dan ayat al-Qur’an yang saya tulis di sini. Hehe.

Monday, August 06, 2007

It’s Only The Rolling Stones, But The Upstairs Like It!




“Sebelum ada disco, sebelum ada punk rock, ada rock n’ roll…dan setiap buku sejarah yang mengatakan kalau Elvis Presley adalah raja rock n’ roll, itu salah besar! Karena Raja rock n’ roll adalah Chuck Berry!” kata Jimi Multhazam sesaat sebelum The Upstairs memainkan lagu Carol.

Jum’at [3/8] nyaris tengah malam, di Taman Ismail Marzuki, saya berbahagia. The Upstairs membawakan lagu-lagu The Rolling Stones! Ah, dua nama favorit saya, jadi satu. Makanya, jauh-jauh hari ketika saya tahu kabar ini, saya bertekad untuk datang. Harus datang. Jangan melewatkan kesempatan langka ini.

Walaupun acara tribute ini tidak sebagus yang saya bayangkan. Band-band sebelum The Upstairs tidak semuanya membawakan lagu-lagu The Stones. Malah, ada band prog rock bernama Imanissimo [kalau tak salah dengar] yang hanya membawakan satu lagu. Itu pun, Cuma mengambil sedikit bagian dari lagu The Stones. Selebihnya, tenggelam dalam komposisi njlimet. Ah, mereka mungkin lebih cocok untuk orang-orang seperti Denny Sakrie. Hehe.

Satu band cover version The Stones, bernama Rajawali, yang penampilan personelnya mengikuti gaya The Stones, juga tak bisa memuaskan saya. Ekspektasi saya pada band seperti itu, adalah membawakan lagu-lagu the Stones dengan rapi. Tapi, saya pernah melihat yang lebih baik dari mereka.

Ketika Rajawali memainkan lagu Sympathy for the Devil, keributan antar bocah-bocah terjadi. Setelah itu, ada beberapa lagi keributan. Saya jadi teringat kerusuhan di konser di Altamont, ketika Meredith Hunter mati tertusuk Hell’s Angels. Waktu itu terjadi, the Stones sedang membawakan Sympathy.

“Hal-hal aneh selalu terjadi setiap kami membawakan lagu itu,” kata Mick Jagger.

Setelah Rajawali, Karon N’ Roll tampil. Juga tidak terlalu istimewa membawakan ulang lagu the Stones.

The Adams, yang tampil sebelum The Upstairs cukup memuaskan. Walaupun permainan mereka tidak terlalu rapi, tapi pilihan lagu “Dandelion” dan “The Last Time”, saya rasa sangat cocok dengan mereka.

Mungkin karena mereka tak meluangkan waktu cukup banyak untuk berlatih.

Crowd yang datang juga sepertinya bukan pasar yang cocok untuk tribute to The Stones. Anak-anak kecil mendominasi lapangan. Ada yang bergaya punk, ada yang bergaya modern darlings. Dan sebagian besar dari mereka, mungkin tak tau lagu-lagu the Stones. Buktinya, ketika The Upstairs membawakan lagu The Stones, mereka tak banyak bereaksi. Hanya orang-orang tua di mulut panggung saja yang terus berteriak dan bernyanyi. Mudah-mudahan, pulang dari sana, bocah-bocah kecil itu mencari tahu the Stones, dan bisa menjadi penggemar baru. Hehe.

“Iya nih, sekarang banyak anak kecil yang datang ke pertunjukkan Upstairs. Menurutlo, ini perkembangan atau kemunduran Leh?” tanya Jimi.

Agak bingung juga menjawabnya. Tapi, menurut saya, ini kemajuan. Karena umur anak-anak kecil itu masih panjang. Dan mereka masih bakal datang ke pertunjukkan. Tidak seperti penggemar Upstairs yang sudah lebih tua. Mungkin sebagian dari mereka sudah enggan datang. Atau, karena juga sudah cukup melihat pertunjukkan Upstairs ketika mereka masih belum sepopuler sekarang.

Jimi tak hapal semua lirik the Stones yang dibawakannya malam itu. Dan bahasa Inggrisnya tak terlalu bagus. Jadi semakin yakin, kalau Jimi memang lebih enak menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Hehe.

Sayang sekali, tata suaranya tak maksimal malam itu. Dan tak banyak fans Stones. Jadi, suasananya tribute to Stones kurang terbangun. Jimi menanyakan soal berapa banyak penonton tua, sebelum dia naik panggung malam itu. Rupanya pikiran dia sama malam itu.

Walau begitu, ada satu penonton tua yang sangat gila pada the Stones. Bahkan, sampai gila beneran. Kata Jimi, si bapak yang mengaku bernama Mick Jagger itu, sudah ada di kampus IKJ, sejak tahun 80-an. Konon, dia gila karena The Stones. Ketika siang hari diperdengarkan lagu Stones, “Mick Jagger” menangis.

“Terharu. Jadi inget Sukarno,” katanya ketika ditanya.

“Mick Jagger” lokal itu, memanggil Jimi dengan nama Keith Richards. Dan Kubil, dia panggil Brian Jones.

“Apa kabar Brian Jones?” kata si Mick lokal, ketika bertemu Kubil. “Dari kecil sudah bule?”

Jam satu pagi, acara berakhir. Mick lokal bahagia sekali malam itu. Seperti juga saya. Walaupun pada saat pulang mengantar Tetta ke rumahnya, saya sedikit tak enak hati pada bapaknya Tetta. Karena anaknya baru saya antar pulang ke rumah jam dua pagi.