Wednesday, February 13, 2008

Minim Bicara Banyak Aksi




Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang non penggemar Bjork yang datang Selasa [12/2] malam kemarin ke Tennis Indoor Senayan.

Biarpun bukan penggemar Bjork, tapi, jika ada kesempatan untuk bisa menontonnya gratis, tentu saja tak akan saya lewatkan begitu saja. Hehe. Maka, jam tiga sore, saya sudah ada di sana. Panitia membagikan ID liputan untuk wartawan. Karena, saya belum terdaftar di sana, saya dan beberapa jurnalis harus menunggu hingga mereka yang ada di dalam daftar, mendapat ID. Tiga jam kemudian, ID baru bisa saya dapatkan.

Jam enam sore, beberapa orang penonton sudah mengantri di pintu masuk. Mungkin mereka ingin mendapatkan tempat paling strategis. Saya lupa, kapan terakhir kali melakukan itu. Datang ke konser beberapa jam sebelumnya. Mungkin dulu, pertengahan ’90-an, ketika menyaksikan konser Slank atau Iwan Fals masih memberikan dampak psikologis yang luar biasa buat saya.

Ketika menunggu mendapatkan ID, saya sempat berbincang dengan kolektor musik/pengamat/penyiar radio, Denny Sakrie. “Gue sering ngintip bloglu Leh. Awalnya nggak sengaja sih, waktu search di Google, eh masuk ke bloglu. Ternyata, ada yang lagi ngomongin gue,” dia terkekeh.

Nah, mungkin dengan begini, dia bakal datang lagi ke blog ini. :p

Denny bicara soal kemungkinan betapa banyak penonton yang datang ke konser malam itu, yang tak benar-benar mengenal konser Bjork. “Datang ke konser ini, yah kayak membeli imej lah,” kata dia, kurang lebih.

“Walaupun tak ada salahnya juga sih, orang nonton konser biarpun cuma pengen beli gengsi atau nggak terlalu kenal sama yang maen. Adri Subono mah, nggak akan peduli, yang dateng ngerti Bjork atau nggak,” kata saya.

Oya, saya mengutip pembicaraan kami tanpa seijin Denny Sakrie sebelumnya. Hehe. Jadi, kalau saya melakukan ini untuk media massa, maka saya bersalah.

***

Hujan turun dengan deras, sekira jam empat sore. Panitia Java Musikindo bicara sesuatu soal hujan akan turun sore itu, supaya nanti malam reda. Sepertinya, mereka bicara soal pengajian juga. Soal sering mengadakan pengajian, jadi tak butuh pawang hujan lagi.

Adri Subono, yang tiba-tiba ada di ruangan pers, berbincang-bincang dengan Denny Sakrie dan beberapa orang wartawan. “Gila, tadi di dalem pas lagi soundcheck, si Bjork nge-balance sendiri. Dia nyanyi, terus ke mixer, nge-balance, terus nyanyi lagi,” kata Adri.

Dan sekira jam itu pula, saya melihat seorang perempuan memakai gaun angsa. Mondar-mandir di depan ruang pers. Di lengan kanannya, ada nama “Isobel” ditulis tangan. Perempuan itu menarik perhatian beberapa fotografer yang ada di sana.

Tapi, sepertinya hanya perempuan itu saja, yang dandanannya terlihat sangat berbeda. Mencoba menyesuaikan diri dengan musisi yang ditonton. Memang, untuk die hard fans musisi lain, mereka bisa dengan mudah meniru dandanan idola, tanpa harus malu pergi dari rumah berdandan seperti itu.

Bayangkan jika si perempuan tadi, berangkat dari rumah dengan angkutan umum. Saya tak bisa membayangkan angsa naik metro mini. Membayangkan modern darlings di angkutan umum sih, masih tak terlalu mencolok perhatian.

Hanya sayang, saya tak melihat Melly Goeslaw atau Astrid malam itu.

Saya heran, kenapa juga pengaruh yang kurang bagus dari Bjork malah yang ditiru Melly? Menggunakan kostum bodoh. Bukannya mengambil musikalitas dia sebagai inspirasinya.

Tak peduli apa kata penggemar sejati Bjork, menurut saya, dia seringkali memakai kostum bodoh. Eksentrik yang nyaris menggelikan sebenarnya. Dan malam itu, Bjork memakai kostum merah dengan lipatan-lipatan yang dari kejauhan mengingatkan saya pada kerupuk warna-warni yang biasa ditemukan saat lebaran.

***

Panitia memberi jatah 40 fotografer saja. Jadi, untuk beberapa media yang tergabung di satu grup, panitia memberi jatah satu fotografer saja. Media yang tak mendapat jatah memotret, tinggal meminta kepada panitia. Dan tak ada kamera video diperkenankan di konser malam itu.

Keputusan ini, langsung dari manajemen Bjork. Konon [jangan dibalik], di Jepang atau di negara mana ya saya lupa, Bjork tak mengijinkan fotografer mengambil gambar di konsernya.

Tapi, ketika jam delapan malam, saya masuk ke ruangan pers, saya melihat Tria Changcuters. Dengan ID fotografer, yang tak akan dipakainya. Oh lucky me, saya pikir. Akhirnya, saya bisa juga memotret. Setelah sebelumnya, berusaha meminta pada Dedidude yang jadi official photographer untuk Universal musik.

Satria Ramadhan ikut beruntung. Dia, yang ada di ruangan itu, tak tahu sedang apa, tiba-tiba ikut mengintil masuk ke dalam, ke area fotografer. Dan kami berdua terkejut. Karena fotografer memotret dari sebelah mixer.

Saya hanya membawa lensa 17 – 40. Karena di formulir perjanjian media, tak disebutkan fotografer harus membawa lensa tele, saya pikir kali ini pasti boleh memotret di depan panggung.

Wakwaw. Saya salah.

Dan hanya bisa memandang sedih. Menyaksikan fotografer-fotografer itu dengan asiknya memotret menggunakan lensa tele. Hiks. Padahal, dengan lensa 70 – 200, saya bisa mendapatkan gambar yang cukup jelas. Karena jarak dari mixer ke panggung di Tennis Indoor tak sejauh di Plennary Hall waktu konser MCR beberapa waktu lalu.

Makanya, saya hanya bisa memberi foto sedikit. Itu pun kecil sekali. Jadi, silakan imajinasikan sendiri seperti apa konsernya. Untuk memenuhi kekurangan foto, saya akhirnya memilih untuk memotret mereka yang datang.

***

Sekira jam setengah sembilan malam, atau kurang beberapa menit lah, Bjork muncul. Tanpa basa-basi. Langsung menghajar dengan lagu yang saya tak kenal. Kalau mau setlist-nya, silakan buka link milik Dedidude:

http://dedidude.multiply.com/journal/item/67/Bjork_Volta_Tour_-_Jakarta

Panggung Bjork, berhiaskan beberapa baliho berwarna-warni. Nuansanya mengingatkan pada nuansa film-film bertema kerajaan dan ksatria. Kostum yang senada, dipakai musisi di Brass Section. Lengkap dengan bendera kecil yang dipakai setiap musisinya. Saya tak tahu, apakah tema ini diambil dari konsep albumnya. Yang lebih mengerti Bjork mungkin bisa memberi penjelasan.

Di panggung, selain layar besar di kanan kiri panggung, ada tiga LCD. Yang paling menarik sih, setiap si musisi memainkan alat yang saya tak tahu namanya itu, tapi kesannya futuristik sekali.

Walaupun, ekspektasi saya sebenarnya lebih dari itu. Saya mengharapkan ada layar besar di belakang panggung, atau suguhan visual lain ketimbang sekadar sinar laser dan baliho sebagai penghias latar belakang. Tapi, apa hak saya juga berharap lebih. Masuk gratis saja sudah syukur. Kalau mereka yang membeli tiket seharga 600 ribu dan 500 ribu, mungkin boleh meminta lebih.

Bjork hanya mengucapkan sedikit sekali kalimat, ketika dia tak bernyanyi.

“Thank you,”

“Thank you very much,”

“You are beautiful people,”

“Sorry, I don’t know your language…”

Selebihnya, dia bernyanyi. Berlari. Menari. Menggerak-gerakkan tangannya, seperti sedang menonjok-nonjok lembut.

Ketika pertunjukkan sudah berjalan sejam lebih beberapa belas menit, mungkin lima belas lah, Bjork pamit.

“This is our last song,” katanya sebelum memainkan entah lagu apa itu, dan pamit.

Tapi, lampu Tennis Indoor masih belum dinyalakan. Berarti, Bjork juga seperti banyak musisi lain. Melakukan adegan pura-pura pamit, padahal ingin diteriaki ‘We want more!’

Kalau ini skenario film, maka adegan pura-pura pamit tadi, seperti adegan klise namun sepertinya wajib ada dalam film. Seperti halnya, adegan berlari-lari mengejar pasangan yang diidamkan, dalam film drama romantis.

Okelah, tak apa-apa. Sepertinya, walaupun terkesan klise, toh penonton sepertinya sudah tahu sama tahu. Maka, tak berapa lama setelah Bjork dkk pamit, penonton—mungkin dengan perasaan malas tapi terpaksa karena yah mau bagaimana lagi—berteriak,

“We want more!”

“Wadimor!”

“Curanmor!”

Hehe.

Harusnya, mereka berteriak,

“Expensive!”

“Expensive!”

“Expensive!”

Biar Bjork tahu, masa’ mereka harus bayar setengah juta, tapi hanya disuguhkan pertunjukkan yang tanggung?

Setelah adegan meminta encore, adegan standar berikutnya, adalah musisi muncul kembali di panggung. Dengan wajah sumringah. Seakan-akan tak mengira, penonton akan meminta encore.

Saya kira, Bjork akan mengganti kostum kerupuk itu dengan kostum lain yang lebih absurd, karena cukup lama baru dia muncul kembali. Ternyata tidak. Padahal, kalau dia mengganti kostum, kalau ada Melly Goeslaw di sana, dia akan punya referensi lagi selain kostum kerupuk.

Adegan encore ditutup dengan adegan penembakan kertas-kertas kecil di udara. Seperti penutupan sebuah festival. Lengkap dengan sinar laser hijau yang memberi kesan semakin meriah, padahal kalau dipikir-pikir, ya cuma sinar laser.

Kalau ini acara teve, maka adegan penembakan kertas tadi, akan ditutup dengan rentetan nama-nama menghiasi layar kaca, disertai adegan host mengatakan kata penutup yang juga klise,

“Terima kasih pemirsa telah menyaksikan acara kami. Saya beserta kerabat kerja yang bertugas, mengucapkan sampai jumpa!”

Tuesday, February 05, 2008

Emo...Bukan...Emo...Bukan...Emo...?




My Chemical Romance konser dengan banyak F Words di depan banyak teenagers.

Rasanya, baru kali ini saya menyaksikan konser kelompok musik luar yang vokalisnya menggunakan banyak sekali kata ‘fuck’ di dalam kalimat. Bahkan di konser Megadeth atau MXPX pun, seingat saya tak sebanyak seperti di konser Kamis [31/1] malam lalu.

Damn. Seharusnya, saya membuat tulisan ini beberapa hari lalu. Dengan begitu, tulisannya akan lebih informatif. Tapi, sejak belakangan ini akses saya pada koneksi internet yang semakin susah, saya telah kehilangan semangat untuk menulis itu. Belum lagi, sehari setelah konser, saya harus ke Bandung. Berangkat jam enam pagi. Baru menyentuh lagi foto-foto ini, hari Seninnya.

Dan baru Selasa [5/2] malam ini, koneksi itu akhirnya bisa saya dapatkan.

Oke, singkat saja.

Kali ini, fotografer ditempatkan di belakang barisan festival. Sebelah FOH. Seingat saya, konser Java Musikindo yang seperti ini, waktu Avril Lavigne datang ke Jakarta beberapa tahun lalu. Hanya bedanya, kali ini, panitia menyediakan undakan untuk para fotografer.

Jarak antara fotografer dan panggung, memang tidak sejauh konser Beyonce. Kalau kamu tahu seperti apa ruangan Plennary Hall, mungkin kamu bisa lebih membayangkan sejauh apa fotografer dengan panggung. Kabarnya, menurut teman saya, Ricky, fotografer The Jakarta Post, kondisi seperti itu akhirnya membuat Associated Press tidak mengambil kesempatan memotretnya.

Seperti di banyak konser Java, crowd yang datang sebagian besar berpenampilan menarik. Harga tiket yang dibandrol setengah juta, dengan sendirinya, menyeleksi orang-orang yang datang.

Lagi-lagi, dominasi remaja terlihat di sana. Tak sedikit dari mereka yang berpakaian hitam-hitam. Tapi, auranya bukan tipikal kostum hitam-hitam seperti di konser rock dengan penonton yang lebih tua dan militan. Hitam-hitam di konser Kamis malam itu, tak terasa tangguh atau gagah. Tapi hitam-hitam in a cute way. Hehe.

Walau begitu, sepertinya ribuan remaja itu merasa My Chemical Romance adalah musik terkeras yang pernah mereka dengar. Paling rock! Paling metal! Hahaha. Oke, yang ini hanya asumsi sembarangan saya. Tapi, yang jelas, tak sedikit dari mereka yang mengacungkan jarinya, membentuk tanduk. Sambil berteriak keras, histeris.

Selepas jatah tiga lagu memotret, saya ke tempat penitipan yang ternyata penuh. Ketika akan masuk kembali ke venue, petugas keamanan menahan fotografer yang membawa tas karena tak bisa dititipkan. Mereka memaksa kami untuk menitipkan di teman yang membawa mobil.

Di sini, saya melihat bukti kelebihan Java Musikindo.

Di tengah kebingungan, tak berapa lama, Adri Subono, the boss himself, sudah ada di sana. Memastikan petugas keamanan untuk akhirnya mengijinkan fotografer masuk membawa kamera.

Lalu, seperti apa konsernya? Ah, saya sudah malas untuk menceritakannya kembali. Yang paling saya ingat, di beberapa lagu, terdengar feedback. Padahal, mereka bukan noise rock. Hehe.

Sejak kapan My Chemical Romance jadi Duta Noise? :p