Monday, January 23, 2006

Belum Lihat Kok Sudah Ribut

Taman bermain saya sedang ramai dibicarakan.
Sepertinya semua orang ingin ikut berkomentar. Politikus, ulama, selebritis, hingga media massa. Maklum, nama taman bermain saya yang baru ini memang lumayan dikenal banyak orang. Imejnya sangat kuat.
Tapi, tidak banyak orang tahu seperti apa sebenarnya isi taman bermain itu. Di kepala banyak orang, di taman bermain saya mereka hanya bakal menemukan perempuan telanjang. Tapi, soal cerita menarik yang bermanfaat dan informatif tidak banyak orang tahu.
Sekarang, banyak orang menyatakan keberatan atas rencana datangnya taman bermain itu. Mereka menghujat. Mereka mengancam. Padahal, melihatnya saja belum. Penjelasan soal tampilannya yang tidak akan mengikuti tampilan dari negeri asalnya sudah diberi, tapi masih banyak yang tidak percaya.
Tidak diberi penjelasan, banyak orang marah. Diberi penjelasan pun, masih saja tidak percaya. Kalau begitu, diam dulu lah. Sampai taman bermain saya benar-benar selesai dibangun, baru berkomentar. Ternyata, untuk yang satu ini pun masih banyak yang tidak bisa.
Serba salah.

8 Comments:

Anonymous Anonymous said...

ibarat pepatah mereka-mereka itu seperti "membeli kucing dalam perahu" alias Sok Tahu,,,,,

January 24, 2006 12:51 PM  
Anonymous Anonymous said...

di kota tasik koran lokal juga ramai menentang taman bermainmu termasuk taman bermain saya ada berita yang menolak taman bermainmu. tapi di kota banjar seorang loper koran ada yang membela taman bermainmu. Tetentasik

January 28, 2006 5:10 PM  
Blogger hawe said...

Kalau boleh ikut berkomentar, walaupun sudah sangat klise... Orang Indonesia itu SOK MORALIS!!! Dasar hipokrit!

Termasuk gw kali.... hehe... Salam simpati, bung!

February 01, 2006 5:28 PM  
Anonymous Anonymous said...

isi protes orang2 memang klise... tp itu mgkin karna mereka susah bilang "banyak anak busung lapar, orang ketimbun longsor, anak2 kecil ngomong 'pelacur' sebelum waktunya, anak2 miskin yang masa depannya belum tentu tambah cerah, tapi apa coba yang dilakuin orang berduit? tentunya bukan mencoba beramal atau bikin program kesehatan, tetapi beli lisensi playboy, mencetak playboy dengan kertas dan warna yang luks, dan menguntungkan diri sendiri."

tentu saja mereka marah. saya juga. nyebelin aja, punya hati kok nggak dipake. punya otak tapi dibuang buat hal yang tidak akan menambah kegunaan apa2 -paling tidak untuk saat ini. kalau playboy, taman bermain yang lo pilih untuk banggakan dan mencari uang darinya itu, bisa bikin anak2 kurang gizi jadi sehat dan jadi anak pintar, silahkan terbit sampai ke pelosok papua.

tapi yg paling menyedihkan adalah, orang2 kayak lo, yg harusnya tahu apa itu tanggung jawab media dan bagaimana bentuknya, memilih untuk diam dan mengikuti saja kapitalisme itu, seperti kerbau dicocok hidungnya dan dimatikan pikirannya. hipokrit? tentu bukan. kita semua suka seks, itu fakta. tapi kita juga manusia, punya akal yang bisa dipakai. dan kalo akal lo bilang "biarin dong playboy" sementara lo tahu negara ini lagi kayak apa, itu artinya nggak punya akal. tinggal aja sana di hutan.

sekian.

February 20, 2006 1:19 PM  
Blogger tamankembangpete said...

leh, sbg orang yg paham tanggung jawab media, tulis tuh di playboy: pemerintah harus menunaikan tanggung jawabnya atas orang miskin. tulis juga sejuta tindakan karitatif utk anak2 kurang gizi gak akan cukup selama kemiskinan adalah persoalan struktural. selama kesenjangan memang dibiarkan. selama keadilan cuma sesumbar. tulis juga mari rampok lumbung-lumbung harta orang kaya dan pejabat=pejabat korup, bagikan untuk massa miskin. tulis itu semua hahahaha

February 23, 2006 6:04 PM  
Blogger Soleh Solihun said...

waduh, tuan [atau nona?]anonymous-anti kapitalisme-penuh tanggungjawab-berakal-peduli kaum miskin-tidak hipokrit--dan berhati nurani, sabar dulu. tenangkan hati, tarik nafas dalam-dalam, jangan marah-marah ya.

saking marahnya, sampai lupa nulis nama ya. katanya tadi bicara tanggungjawab. mudah-mudahan karena lupa nulis aja.

oya, mudah2an anda marah2 seperti ini, bukan karena bad sex life, atau kekurangan uang.

untuk kekurangan uang, saya sarankan; kerja lah. cari banyak uang, biar anda bisa memberantas kemiskinan dan meningkatkan gizi anak2.

untuk bad sex life: you need to get laid!

February 23, 2006 8:31 PM  
Blogger AryaNst said...

Anonim nomer 3 (ada dua lainnya di bagian komen ini yang anonim, biar jelas). Saya setuju dengan anda. Busung lapar memang memprihatinkan, apalagi jika terjadi di daerah lumbung padi seperti di Karawang. Bencana-bencana yang menghantam Indonesia memang sangat berat dan menyentak. Dan tentang anak-anak miskin (dan orangtua mereka tentu saja) yang semakin miskin karena berbagai kebijakan Kanan (baca:kapitalisme) pemerintah juga menjadi kesedihan kita semua. Dan itu selain tugas pemerintah, juga jadi tugas kita semua untuk berbuat sesuatu yang kita bisa untuk memperbaikinya.

TAPI...

Membeli lisensi Playboy bukan berarti tidak pernah berzakat, berderma, menyantuni anak dan fakir miskin, menyumbang pada korban bencana. Bekerja di Playboy bukan berarti tidak punya hati melihat penderitaan orang kecil yang terhimpit, bukan berarti tidak menjerit dengan keadaan Indonesia sekarang ini.

Siapa tahu para pemilik dan pegawai Playboy ini lebih banyak berderma daripada anda? Beribadah lebih khusyuk daripada anda? Lebih bermanfaat bagi Indonesia daripada anda? Apa anda mau bilang ibadah mereka tidak akan diterima karena kerja di Playboy? Ah, anda siapa sih? Tuhan? Malaikat? Nabi?

Yang jelas sih, sahabat saya ini udah lebih berani daripada anda. Lihat, ada namanya di blognya dan di balasannya. Tidak seperti anda yang anonim. Yah, mudah2an sih memang karena lupa ya?

Yuk, hentikan prasangka-prasangka kayak gitu...

Sori Leh kepanjangan euy... Huehehe, bisa dijadiin posting sendiri nih sebenernya di blog gua :D

February 23, 2006 11:17 PM  
Anonymous Anonymous said...

loh nggak sengaja liat2 malah seru... ini apa ya? debat dpr? kekeke... sutralah, ada nggak ada playboy idup jalan terus.

February 24, 2006 5:07 PM  

Post a Comment

<< Home