Tuesday, March 31, 2009

Rock Bergema di Pesta Acit Dedi




Acit Dedi menikah. Mengadakan pesta sebagai hadiah. Supaya teman-temannya sumringah.

Minggu [29/3], rencananya pesta di Prost! Kemang dimulai pukul enam sore. Tapi nyatanya, baru dimulai tiga jam dari rencana. Tony dan Wenz Rawk menjadi DJ sebagai pemanasan, sebelum band-band tampil.

The Jones adalah yang pertama tampil. Ini kali pertama saya menyaksikan dan mendengar nama mereka. Mereka memainkan punk rock, entah sudah rilis album entah belum tapi saya jarang mendengar nama mereka di banyak panggung mungkin saja saya yang kurang gaul. Tapi, berkat Acit Dedi The Jones bisa tampil sepanggung bersama nama-nama yang sudah lebih dikenal.

Komunal tampil berikutnya. Pasukan perang dari rawa Bandung ini baru kali pertama juga saya lihat. Tak salah kalau banyak pujian diberikan pada mereka. Dan bolehlah jika mereka menyanyikan bahwa mereka akan menyelamatkan rock n’ roll. Hanya sedikit menggelikan ketika vokalisnya bicara. Sedikit menggeram dan hampir seperti gaya vokalis grunge bernyanyi hanya saja dia bicara. Mungkin begitu cara mereka berbicara di rawa. Hehe. Padahal, sepertinya yang dari rawa hanya vokalisnya saja, karena gitaris dan bassisnya seperti pasukan perang dari kota dan cocok menghiasi majalah-majalah ABG karena berwajah tampan [gitaris Sadat malah mirip Orlando Bloom]. Sedangkan drummer mereka, seperti pasukan perang dari mushola, karena satu-satunya berambut pendek dan berjenggot. Hehe.

Denial tampil setelah Komunal. Tony jadi gitaris sekaligus vokalis. Menurut Wenz, ketika Denial tampil, petugas sound system di Prost! terlihat khawatir karena mereka menimbulkan banyak sekali kebisingan di panggung. Mungkin khawatir sound system mereka jebol. Padahal yang benar-benar mengkhawatirkan sound system adalah Teenage Death Star.

Setiap kali mereka manggung, monitor pasti bergeser dari posisi semula. Penonton pasti menggila. Achong Alvin juga pasti menggila. Merobohkan diri di panggung. Tapi yang paling terlihat seperti orang gila adalah ulah seorang perempuan yang rasanya tak dikenal oleh orang-orang itu kecuali oleh Tony. Si perempuan pengacau pesta itu kelakuannya benar-benar membuat orang ingin menendang.

Acit Dedi saja tak kenal siapa dia, tapi kelakuannya benar-benar tak tahu diri. Naik ke panggung merebut mik dan hanya berteriak-teriak tak jelas seperti haus perhatian entah mabuk betulan entah pura-pura mabuk supaya tak terlalu disalahkan atas kelakuannya. Ketika Teenage Death Star tampil, si pengacau pesta malah memukul-mukul mikrofon ke lantai panggung hingga menimbulkan sedikit penyok di ujungnya.

Bahkan ketika Seringai tampil pun, si perempuan pengacau pesta masih saja berbuat ulah. “Malam ini kami menjadi seperti Doddy Katamsi, tapi versi lebih ekstrim,” kata Arian. Seringai membawakan heavy metal top 40 yang cukup membuat penonton menggila—tapi bukan menggila seperti halnya si buntelan pengacau pesta.

Rumah Sakit sempat grogi untuk tampil melihat penonton yang panas oleh gempuran heavy metal top 40. Sebagian besar penonton yang ditanya soal masihkah mau menunggu Rumah Sakit malah menjawab tak mau, hanya segelintir yang menjawab iya. Salah juga konteksnya memang. Orang sedang asik menikmati metal, tiba-tiba ditanya apakah mereka mau mendengarkan musik indis. Haha.

Tapi akhirnya Rumah Sakit tampil juga. Reuni hanya untuk Dedi. Rock yang sempat bergema selama beberapa jam di Prost! akhirnya ditutup oleh musik indis.

Wednesday, March 11, 2009

Java Jazz 2009: Festival [Not] For All




Setiap tahun, saya datang ke Java Jazz.

Tapi, setiap tahun juga saya tak terlalu menikmati festival ini. Hanya tahun pertama yang berkesan buat saya, karena menonton The God Father of Soul James Brown dua kali! Tahun ini, rasanya yang paling tak menyenangkan, jika saja tak ada Slank di sana.

Tahun lalu, meskipun saya tak tahu siapa yang harus ditonton karena sangat awam dengan musik jazz, setidaknya festival itu masih enak buat dipakai jalan-jalan. Tahun ini, Java Jazz yang digelar dari 6 – 8 Maret 2009, bahkan untuk jalan-jalan dan melihat pemandangan pun, sudah tak nyaman. Lorong-lorong di sepanjang Jakarta Convention Center sudah terlalu padat oleh orang. Saya tak tahu berapa banyak tiket yang terjual tahun ini. Sepertinya sih, jika diukur dari tingkat kepadatan penonton, tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Entah panitia menyebar tiket lebih banyak, entah memang animo masyarakat terhadap festival ini sudah lebih tinggi.

Seorang kawan mengeluhkan karena dia harus menonton Swing Out Sister dini hari. Waktu yang sudah tak nyama lagi untuk menyaksikan konser. Dia pulang pukul setengah tiga pagi. Padahal, di jadwal tertulis pertunjukkan itu harusnya dimulai pukul sebelas malam. Mungkin karena waktu soundcheck yang membuatnya harus molor. Maklum, rata-rata setiap penampil, melakukan soundcheck sebelum manggung. Tapi, kalau begini, kasihan mereka yang sudah membeli tiket mahal dan akhirnya harus pulang di lagu ketiga atau keempat karena membawa anak dan waktu sudah terlalu larut.

Tahun ini, bahkan untuk sekadar duduk-duduk di lantai melepas lelah pun sudah tak bisa. Akhirnya, festival jazz untuk orang awam jazz seperti saya adalah selalu begini: mendatangi satu panggung lalu pergi ke panggung lagi dan ke panggung lagi. Kali ini, jadi lebih susah karena untuk jalan dari satu panggung ke panggung lainnya saja sudah repot. Akhirnya, begitu sampai di satu panggung, sudah banyak orang dan biasanya penampilannya sudah beres, dan ketika saya mendatangi panggung lain, di sana sudah banyak orang. Begitu sampai, ternyata musiknya tak terlalu enak buat selera saya, apalagi bagi saya musik jazz enak dinikmati sambil duduk santai. Yang ada, adalah berdesak-desakan sambil bertanya-tanya siapa gerangan yang sedang bermain di sana. Mungkin juga karena kali ini ada Jason Mraz yang dua hari konser di sana tiketnya ludes, bahkan di calo sudah menembus angka 1,2 juta!

Saking awamnya saya dengan musik ini, ada satu kejadian bodoh. Ketika di salah satu ruangan paling besar, saya lupa namanya, Plennary kalau tak salah, ada seorang musisi yang sepertinya diminati banyak orang. Antrian begitu panjang sudah terlihat sebelum musisi itu tampil, dan sebelum pintu dibuka.

“Eh ini ngantri apaan sih?” kata saya kepada seorang teman.
“Pemain piano,” jawabnya.
“Iya, siapa?” kata saya lagi.
“Pemain piano,” jawab dia lagi.

Lalu saya berkeliling lagi, dan bertemu lagi teman yang lain.
“Mau nonton yang di situ ya?” kata saya merujuk pada antrian ke Plennary.
“Iya, pemain piano,” kata dia.
“Siapa?” kata saya penasaran.
“Pemain piano,” jawabnya.

Belakangan, saya tersadar bahwa saya salah dengar, dan yang tadi mereka bilang adalah, Matt Bianco, bukannya pemain piano.

Kali ini, beruntung ada Slank—main Sabtu [7/3], yang musiknya masih bisa saya nikmati. Saya tak mempermasalahkan jika festival jazz memasukkan beberapa nama di luar jazz. Memang, saya sempat merasa sedikit mencibir ketika beberapa nama di luar jazz main di sana, tapi setelah dipikir-pikir, bahkan The Rolling Stones pun pernah main di festival jazz saya lupa tepatnya yang jelas sepertinya tahun ’60-an. Dan bahkan Deep Purple pun pernah main di festival jazz.

Dan Slank, memainkan banyak lagu yang jarang dan tak pernah dimainkan sebelumnya untuk festival ini. Menjadikan penampilan mereka di sana berbeda dengan panggung lain. Plus, tak ada bendera Slank berkibar kali ini. Slank ditemani tiga orang penyanyi latar, pemain brass, serta pemain Hammond. Melihat pemandangan itu, rasanya Slank perlu mempertimbangkan untuk mengajak beberapa musisi tamu supaya ada kesegaran di panggung mereka. Karena nyatanya, panggung di Java Jazz menunjukkan bahwa konser mereka terdengar lebih penuh dan jauh lebih menarik dengan kehadiran musisi pendukung.

Slank membawakan beberapa lagu yang kental dengan atmosfir funk dan blues yang memang sangat tepat diberi aksen brass section dan pemain hammond. Hanya sayangnya, vokal Kaka sepertinya kurang prima sore itu. Sepertinya, beberapa kali Kaka terdengar sedang bermasalah dengan tenggorokannya. Kalau saja Kaka tampil dalam kondisi yang maksimal, penampilan Slank sore itu akan jauh lebih menarik.

“Gimana? Pantes kan Slank main di Java Jazz? Pantes kan?” kata Kaka kepada penonton.

Mungkin mereka sempat mengkhawatirkan pendapat orang yang akan mencemooh soal Slank tampil di sana.

“Peter Gontha minta kami buat main di sini, dia pengen ngelihat gimana kalau kami main di Java Jazz,” kurang lebih begitulah kata Kaka saya juga lupa pasti kalimatnya, “ini pertama kalinya Slank main dengan penonton yang lebih banyak perempuan wangi. Anti keringat!” Kaka tertawa.

Beberapa penonton perempuan di dekat saya, berteriak kegirangan melihat Slank. Saya tak tahu apakah perempuan-perempuan itu memang menyukai Slank atau senang karena pertama kali menyaksikan Slank. Mungkin juga, sebagian dari mereka memang ingin menyaksikan Slank tapi karena selama ini panggungnya identik dengan penonton Slankers yang penampilannya berantakan dan selalu di lapangan yang akan membuat keringat bercucuran, penonton jenis itu mengurungkan niat mereka tampil.

Setidaknya, panggung sekelas Java Jazz akan menguntungkan buat Slank dan penonton. Slank bisa tampil di banyak penonton baru. Dan mereka yang selama ini malas datang ke pertunjukkan Slank, bisa menonton dengan nyaman dan rasa aman.

Ah sudahlah, saya harus akhiri tulisan ini. Sekarang lagi deadline. Tugas utama belum terselesaikan. Hehe. Ini sebagian foto yang bisa saya ambil. Saya tak banyak mengambil foto panggung, karena memang tak banyak menonton. Bahkan Tika yang memberi info soal penampilan dia saja, tak sempat saya tonton karena saya selalu tersesat ketika mencari panggung. Begitu sampai di panggung yang dimaksud Tika, pertunjukkan terlanjur bubar.

Ini sebagian foto yang bisa saya ambil, dan sebagian orang yang saya temui di sana.


Monday, March 02, 2009

Sepuluh Penyanyi Perempuan Paling Seksi Versi Selera Soleh Solihun

Sebelumnya saya peringatkan dulu. Sebagian besar daftar ini awalnya adalah hasil penilaian subyektif dari sudut pandang visual. Meskipun Mulan Jameela menyanyikan bahwa dirinya mahluk paling seksi di dunia, dia tak akan masuk daftar ini. Maaf saja. Selera saya berbeda dengan Ahmad Dhani. Hehe. Fotonya saya ambil dari internet, tapi maaf saya lupa mencatat sumbernya.

Marianne Faithfull
Saya mengenal sosok dia, awalnya karena membaca tulisan tentang The Rolling Stones. Faithfull adalah perempuan yang katanya membawa Mick Jagger ke kalangan sosialita. Tapi, secara fisik, ini memang pacar Mick Jagger yang paling oke dilihat dari selera saya. Dibandingkan Jerry Hall atau Bianca, Marianne adalah juaranya. Bibirnya cukup lebar, tapi tak selebar bibir Bianca. Rambutnya lurus, tipikal perempuan ‘60s atau ‘70s. Marianne terlihat feminin tapi mitos yang mengelilinya membuatnya punya imej liar. Mitos yang paling liar adalah ketika suatu saat polisi menggerebek sebuah rumah di mana Mick, Keith, Marianne dan beberapa orang lainnya sedang pesta narkotika. Ketika digerebek, Marianne baru keluar dari kamar mandi, karena tiba-tiba ada polisi dia belum sempat berpakaian, maka dibalutlah badannya itu dengan karpet atau selimut saya lupa. Yang jelas, besoknya, surat kabar memberitakan bahwa dalam penggerebekan pesta narkotika itu, Marianne tertangkap sedang telanjang dan di bagian pribadinya [yah kamu tahulah di mana], tertancap  cokelat batangan bermerk Mars. Hahaha.  Salah satu momen paling seksi adalah ketika Marianne bermain di dalam film Girl on A Motorcycle. Kostum kulit ketat dipadu dengan motor besar semakin menambah daya tarik visual.


Grace Slick
Dia adalah penyanyi Jefferson Airplane. Perempuan cantik bernyanyi lagu psikedelik sudah tentu bakal menarik. Secara fisik sih, sudah tentu punya daya tarik.

























Debbie Harry
Penyanyi Blondie ini punya daya tarik yang hampir sama dengan Marianne Faithful. Dia feminin, tapi bisa juga punya imej liar dan kadang sedikit ada cita rasa maskulin. Foto-foto panggungnya akan menunjukkan betapa liar dia di panggung. Dan dia berteman dengan The Ramones, itu menambah daya tariknya.























Lisa Loeb
Yang membuat dia menarik adalah rambut panjang lurus dan kacamatanya. Apalagi ketika dia bermain gitar. Seperti memadukan unsur perempuan baik-baik dengan sedikit unsur liar [tapi bukan liar dalam konteks murahan atau perempuan nakal]. Lisa Loeb adalah salah satu contoh baik betapa perempuan dengan kacamata bisa terlihat seksi.






















Shakira
Video klip “Whener Wherever” adalah perkenalan saya dengan perempuan ini. Yang menjadi daya tarik pertamanya sih sebetulnya karena goyangan Shakira di video klip itu. Sebelum orang heboh dengan goyang Inul dan Dewi Persik, Shakira sudah menghebohkan kepala saya dengan goyang pinggulnya. Melihat goyangannya yang cepat, seakan-akan pantatnya seperti punya pikiran sendiri!






















Avril Lavigne
Ini adalah salah satu gulity pleasure saya. Hehe. Pertama kali tertarik pada Avril karena video klip “Skt8r Boy” sering diputar di televisi. Sewaktu dia muncul dengan klip “Complicated” sih belum tertarik, tapi begitu melihat Avril lincah di klip “Skt8r Boy” yang memang cathcy dan punya potensi untuk jadi guilty pleasure, dari situlah saya tertarik. Avril ketika muncul pertama kali adalah sosok perempuan muda yang tomboy tapi cantik. Kalau tomboy tapi tak cantik sih tak akan menarik, karena jadinya malah seperti laki-laki. Tapi kalau tomboy tapi cantik, itu baru menarik. Seperti saya bilang sebelumnya, saya selalu suka sedikit maskulinitas dalam diri perempuan. Dan Avril Lavigne sepertinya punya itu.






















Katy Perry
Dia punya segalanya. Wajah cantik, dada montok, baju yang seksi, lagu yang catchy serta danceable membuat Katy Perry tak hanya enak dinikmati secara audio, tapi juga secara visual. Ketertarikan dia dengan gaya ‘50s membuat ada sedikit nuansa rockabilly [tapi tak terlalu intimidatif seperti kebanyakan perempuan rockabilly yang selalu saya lihat di sekitar anak-anak SID atau teman-temannya Rudolf Dethu. Hehe].






















Lady Gaga
Dia adalah eksibisionis. Ini daya tarik utama. :p Pilihan kostum panggungnya hanya dua: celana ketat berbahan kulit [atau lateks ya?] atau tanpa memakai celana, membiarkan pahanya tak tertutupi celana. Damn saya terdengar seperti pervert! Awalnya, beat-beat lagunya tak terdengar menarik di telinga saya. Serasa seperti lagu dance lainnya [bahkan teman saya Wening bilang seperti beat musik dance Inggris murahan]. Tapi saya terpaksa menolak anggapan itu. Karena ternyata lagu “Just Dance” dan “Poker Face” dari album perdananya The Fame rupanya enak untuk dinikmati. Plus, Lady Gaga adalah penggemar David Bowie [itu menjelaskan motif cat di  wajahnya].






















Beyonce
Saya bukan penggemar musik R N’ B. Tapi, Beyonce adalah alasan yang bagus untuk tetap diam menyaksikan video klip lagu dia. Masa-masa dia di Destiny’s Child memang tak terlihat menarik buat saya, tapi begitu dia bersolo karir barulah saya sadar betapa menariknya dia. Apalagi di video klip yang saya lupa judulnya, tapi dia memakai hot pants dan tank top putih dan menari-nari. Yang paling terbaru, adalah video klip “If I were a Boy” yang mengharuskan dia memakai kostum polisi. Hehehe.






















Nona Sari
Nona Sari punya daya tarik yang berbeda dibandingkan para penyanyi perempuan yang saya tulis sebelumnya. Yang lebih dulu menarik buat saya adalah musiknya, baru penyanyinya. Belakangan saya tersadar bahwa dia seksi, tapi tidak dalam konteks sensual. Di antara seluruh daftar saya, dia satu-satunya yang tidak mengumbar banyak kulit. Bukan yang membuat jantung berdebar dan pikiran melayang ke mana-mana. Dia secara visual seperti perempuan rumahan tujuh puluhan yang kadang terlihat polos dan mungkin naif dari luar, tapi ketika bernyanyi kita akan melihat bahwa di balik pakaiannya itu, dia tak sepolos yang kamu kira. Nona Sari tak perlu banyak bergerak di panggung. Dia tak perlu terlihat lincah untuk musik mereka yang riang gembira itu. Dia hanya perlu menari-nari sedikit, tapi justru dari pergerakan yang sedikit itu timbul daya tarik.