Monday, September 24, 2007

I've Been Emo-ed!




Kalau saja Pete Wentz tetap di jalur hardcore, mungkin dia tak akan sepopuler sekarang.

Kemungkinan besar dia tak akan datang ke Indonesia. Dan tak akan ada ribuan remaja putri berteriak memanggil-manggil namanya di Tennis Indoor Senayan. Dan tak akan diberi pertanyaan klise—khas banyak wartawan lokal pada musisi luar yang datang ke Indonesia—yang diajukan oleh seorang penyiar radio anak muda dengan logat ke-negro-negro-an pada saat konferensi pers, Minggu [23/9] kemarin.

“Yo, what’s up guys? I’m representing Oz Network, welcomes you to Indonesia. Blablabla [saya lupa kalimat berikutnya, yang jelas seperti tipikal penyiar radio memberi kalimat pengantar dalam bahasa Inggris sebelum memutar lagu]. So, what’s your preparation, non technical preparation?”

Dua kali mereka terlihat kaget. Pertama dengan logatnya. Kedua, dengan pertanyaannya.

Konferensi pers itu berjalan singkat. Seingat saya, hanya ada lima wartawan yang bertanya. Tanya jawab hanya berjalan sekira lima belas menit. Dan entah berapa menit sesi foto. Seperti biasa, para fotografer itu berteriak-teriak. Mungkin sudah jadi kebiasaan, kalau mau mengambil gambar orang harus disertai kalimat perintah.

Fall Out Boy tak banyak bicara. Bahkan, saking iritnya bicara, mereka tak mengabarkan pada panitia kalau mereka tertinggal pesawat. Akhirnya, ketika panitia menjemput mereka di bandara, mereka tak kunjung tiba.

“It wasn’t our fault,” kata gitaris Joe Trohman.

Saya lupa apa saja yang dibicarakan di sana. Saya juga kurang mendengar jawaban Joe dan drummer Andy Hurley ketika saya tanya soal Andy yang serius menjadi straight-edge hingga ketika Joe menghisap ganja, Andy menutup hidung dan mulutnya. Yang saya ingat, Melanie Subono, yang jadi moderator, berkata soal Andy yang ingin makan toge dan tahu saja malam itu. Tapi, toge dan tahunya direbus terpisah.

Jam sembilan malam, penonton sudah masuk ke Tennis Indoor Senayan. Saya lupa, kapan terakhir kali menonton kelompok musik luar di sana. Kursi tribun padat. Begitu juga dengan daerah festival.

Ribuan remaja putri yang tak sabar menanti, ikut menyanyikan lagu Fall Out Boy ketika salah satu video klip mereka diputar. Mereka hapal di luar kepala. Setidaknya, begitu yang terlihat dari depan panggung. Mereka juga berteriak-teriak memanggil kelompok musik pujaannya.

"F O B !"
"F O B !"
"F O B !"

Entah kenapa disingkat. Padahal, kalau mereka teriakkan nama lengkapnya, masih bisa. Toh nama Fall Out Boy juga hanya terdiri tiga suku kata.

Tak berapa lama, remaja-remaja itu mengganti kalimat teriakkannya.

"We Want Pete!"
"We Want Pete!"
"We Want Pete!"

Yang dimaksud Pete, tentu saja Pete Wentz, bassist sekaligus frontman.

Suara laki-laki di sana, tenggelam oleh ribuan suara perempuan. Mungkin karena sebagian besar laki-laki yang ada di sana, pita suaranya belum pecah. Mungkin juga belum tumbuh rambut di bawah sana dan belum mimpi basah. Hehe.

Ketika seorang kru naik panggung, memerika tata suara, remaja-remaja itu berteriak. Padahal, sosoknya jelas-jelas berbeda. Tinggi besar, gondrong. Atau memang, dari kejauhan tak terlihat jelas.

Sepertinya, jam sembilan lebih dua puluh Fall Out Boy baru tampil. Tiga lagu pertama, saya ada di depan panggung. Bersaing dengan puluhan fotografer.

Jeprat! Jepret! [ini suara kamera]
Jedag! Jedug! [ini sound effect saya berjibaku dengan fotografer lain]
Jeprat! Jepret!
Jedag! Jedug!

"What the hell is going on here?" entah kata Pete atau vokalis Patrick Stump.

Saya yang tak mengerti makna lain selain kalimat pertanyaan itu, dalam hati bicara, "Kok bodoh sih. Ya jelas-jelas ini konser lu!"

Ini kali kedua saya motret pertunjukkan kelompok musik luar. Yang pertama, waktu meliput Black Eyed Peas di Singapura buat Trax. Agak menyebalkan, karena hanya ada sedikit waktu. Apalagi saya bukan fotografer. Dan kalaupun motret, biasanya di pertunjukkan-pertunjukkan kecil, dengan tak banyak fotografer lain di sekitar panggung, dengan waktu yang lebih bebas.

Masuk lagu ke-empat, bodyguard berbadan bulat mengusir kami. Tangannya ke atas dan ke bawah, memutar-mutar. Yah kamu tau lah, gerakan tangan mengusir sambil mendorong.

“Move it!”
“Move it!”

Kemudian, kru dari Java datang, memberi tahu dengan sopan kalau jatah sudah habis.

Saya pindah ke daerah festival. Di bagian belakang, ternyata ada anak-anak Samsons. Bams datang menyapa. Saya lantas melakukan perbuatan bodoh. Berbicara waktu konser berlangsung. Serba salah memang. Bertemu dengan orang di konser. Keinginan untuk berbasa-basi pasti ada. Tapi, bahkan berteriak pun, percakapan sulit sekali didengar.

Samar-samar, saya dengar Bams berbicara,

“Gue suka album mereka yang sekarang. Padahal, yang pertama, gue caci maki,” katanya.

Dan beberapa kali kami terlibat pembicaraan.

Brang breng brong.
Waaaa waaa waaaa.

Musik Fall Out Boy memenuhi telinga.

Bams berbicara lagi. Saya mencoba mendekatkan telinga untuk mendengar ucapannya.

Brang bring brong.
Waaaa waaa waaa.

Saya hanya tersenyum, “Oooh iya.”

Bams bingung. Dia tersenyum.

“Eh, tadi elu ngomong apa?” saya berteriak di kuping Bams.

Dia mengulang ucapannya. Saya dekatkan lagi kuping saya. Tetap tak terdengar.

Sepanjang konser, Bams memuji-muji Fall Out Boy. Saya beberapa kali mencoba berempati, dengan mengatakan hal-hal yang bagus soal Fall Out Boy dan kedatangannya.

“Java pas banget ngajak mereka sekarang. Soalnya mereka lagi naek daun,” kata saya setengah mati berbicara di tengah konser.

“Iya, vokalisnya bisaan. Masih bisa nyanyi, sambil ngegitar, sama kadang-kadang loncat-loncat,” teriak saya.

“Drummernya jago ya?” kata Bams.

“Ya ya,” jawab saya sambil tersenyum.

Kalaupun jelek, saya tak akan bilang jelek saat itu. Karena akan merusak mood seorang penggemar yang sedang menikmati suasana asik. Bahkan saya tak bilang kalau Fall Out Boy, biasa saja. Walaupun harus diakui, kalau mereka memang ganteng. Terutama si Pete Wentz. Saya bisa mengerti kalau banyak remaja putri histeris.

Tak satu pun lagu F O B yang menarik buat saya. Kecuali pada saat mereka membawakan “Basket Case” dan “Beat It” di depan sebagian besar crowd yang saya rasa, masih balita waktu Green Day membawakan lagu itu. Dan sebagian besar crowd yang mungkin tak pernah tahu kalau Michael Jackson pernah berkulit hitam.

Tak ada encore malam itu. Mungkin karena sudah dibuat encore yang diatur di tengah-tengah set. Diatur di sini, dengan cara bagus. Mereka keluar panggung sebentar. Lantas, seorang berbadan besar kita sebut saja Fat Bastard mencoba memanaskan suasana. Si Fat Bastard, yang dari jauh mengingatkan saya pada Moeg Moeg [itu loh, si badan besar yang suka mengurusi band Siksa Kubur atau Straight Out ya lupa], berteriak, mengomando ribuan remaja.

“We want F O B!”
“We want F O B!”

Atau, teriaknya begini ya?

“We want more!”
“We want more!”

Ah, saya lupa. Yang jelas, ada adegan Fat Bastard mengomando ribuan remaja untuk memanggil kembali idola mereka.

Setelah total 20 lagu, dalam waktu kira-kira satu jam, pertunjukkan berakhir. Sebelum berakhir, di luar pintu, beberapa remaja kepayahan. Beristirahat. Badannya berkeringat. Sebagian besar dari mereka remaja putri.

Beberapa musisi lokal terlihat di antara kerumunan. Gigi tanpa Budjana, Audy, gitaris Cokelat yang adiknya itu loh, dengan pacarnya Nirina, VJ Daniel dengan VJ baru yang terlihat seperti pacarnya karena sangat mesra, Abdee Slank, dan entah siapa lagi.

Di luar, saya bertemu rombongan Ricky, Toby dan Fajar.

“We’ve been emo-ed!” kata Ricky cengengesan.

Dan begitu mendengar Ricky berkata itu, saya tahu harus menulis apa untuk judul di multiply saya.

Tuesday, September 11, 2007

Zeke in the Headline




Kalau saya cheap bastard, maka Zeke adalah salah seorang lucky bastard.

Orangtuanya punya uang dan dekat dengan sumbu kekuasaan. Zeke punya pacar seorang model. Apalagi yang seorang laki-laki inginkan, selain banyak uang dan punya pasangan yang cantik? Oya, hampir lupa. Tentu saja bisa menyalurkan hobi dengan maksimal.

Dan Senin [10/9] malam kemarin, saya melihat buktinya. Di rumahnya di daerah Panglima Polim, Zeke mengadakan syukuran launching album perdana Zeke and The Popo. Maaf. Bukan Zeke, tapi labelnya, Black Morse. Eh, Zeke deng, sepertinya dia yang punya label itu. Eh, belum tentu juga…Yah, pokoknya mah begitulah.

Rumah Zeke luas dan strategis. Begitu datang, saya melihat orang-orang berseragam safari hitam-hitam memarkirkan mobil. Waktu saya mencari tempat parkir pun, salah seorang dari mereka langsung menunjukkan tempat yang bisa dipakai parkir. Dan itu ada di depan rumah tetangganya. Biasanya, kalau berkunjung ke kompleks orang, parkir di depan rumah tetangga adalah salah satu illegal operation. Tidak percaya? Coba saja berkunjung ke kosan saya, dan parkir di depan rumah tetangga ibu kos. Pasti didatangi satpam, disuruh pindah dengan alasan takut mengganggu mobil si juragan keluar, padahal masih banyak ruang buat keluar masuk mobil.

Zeke punya semacam ruangan mirip ball room. Ada panggung kecil di sana, lengkap dengan tata suara dan tata cahaya, yang cukup untuk membuat pertunjukkan di sana representatif. Lampu-lampu gantung menghiasi ruangan itu. Di dindingnya, ada lukisan Agum Gumelar dan istri. Babehnya Zeke memakai seragam tentara. Baret merah. Gagah.

Di bagian belakang, agak keluar dari ball room, ada ruangan agak terbuka. Di sana sudah tersaji dua meja yang menyediakan lontong dan sate ayam, serta mie baso. Nyam nyam. Enak. Gratis pula. Hehe.

Mungkin mereka salah satu band indie dengan kondisi finansial yang baik.

Tapi, saya rasa, musikalitas mereka bukan semata-mata karena mereka lucky bastards. Sepertinya bermodalkan menjadi lucky bastards saja tak cukup untuk membuat album bagus.

Saya datang ke sana, karena suka pada album perdana mereka, “Space in The Headlines.” Beberapa waktu lalu, Uga mengirimkan sample-nya. Dan saya dengar kabar soal penjualan CD Premium Package mereka. Hanya dengan Rp 60 ribu [setelah didiskon karena membawa voucher dari Trax Magazine], saya bisa dapat CD, dengan kemasan yang cukup ekslusif, di dalamnya ada stiker, poster, pin dan kaos! Walaupun kaosnya tipis, tapi bahannya tidak seperti tipisnya kaos partai! Untung mereka tidak meminta anak buah babehnya Zeke untuk mencari bahan kaos, karena kemungkinan besar kualitas kaosnya akan seperti kaos partai.

Sebelum album ini, saya tak pernah menaruh perhatian yang besar terhadap ZATPP. Mungkin karena sudah curiga dulu. Ah, anaknya pejabat Orde Baru. Mungkin karena iri dan dengki, sehingga tak mau menilai obyektif. Mungkin juga karena belum pernah benar-benar mendengarkan musik mereka.

Album mereka, salah satu album menarik tahun ini—apalagi mengingat kondisi industri kita yang dipenuhi lagu-lagu pop cengeng bertema cinta yang sering diputar radio dan video klipnya yang norak masuk kategori MTV Top Hits. “Space In The Headlines” adalah album folk rock yang mengawang-awang, tapi beberapa lagu masih sing along. Nuansanya agak gelap memang, tapi tidak sampai menimbulkan depresi. Dan saya suka pemilihan sound mereka. Terdengar agak mentah, tapi ada nuansa modern-nya juga. Dan melodi piano [atau organ? Atau keyboard? Ah, saya tak pernah pintar dalam hal deskripsi alat musik!] yang cukup mendominasi di beberapa lagu, memberi kesan gelap, misterius, tapi masih memikat. Seperti nuansa film Kala—yang score musiknya dikerjakan Zeke.

Begitu mendengar track pertama “Prof. Komodo,” telinga saya langsung tertarik. Sedikit part dari intronya agak mengingatkan pada nuansa lagu Bob Dylan yang elektrik memang, tapi itu termasuk track pembuka yang langsung mengikat.

Zeke, si penulis sebagian besar lirik sepertinya tertarik sekali dengan pembunuhan, darah dan cerita misteri. Karena di beberapa lagu, ada kata “blood,” “kill her,” “gun,” hingga “enemy.” Entah karena babehnya tentara. Entah karena Zeke senang cerita-cerita suspense atau thriller. Dan yang mendukung teori saya, di satu lagu, saya lupa yang mana, dia memasukkan bagian dari film Alfred Hitchcock.

Tapi, ada satu lagu, yang judulnya agak menggelikan sebenarnya, “Dukung Stasiun TV Lokal.” Entah apa yang jadi inspirasinya. Tapi, kalau sisi buruk sangka saya yang berbicara, mungkin karena babehnya Zeke, salah satu anggota Dewan Kehormatan, MNC, konglomerasi media yang punya RCTI, TPI, Global, CTV, serta Genie.

Untung saja, Zeke tidak bicara soal politik dan kritik sosial, karena kalau itu terjadi, saya akan sedikit kurang menyukai album ini. Seingat saya, hanya ada satu kata “korupsi” dipakai di album itu. Yah, kalau Zeke bicara soal kritik politik, mungkin dia harus sampaikan itu dulu sama teman-teman babehnya. Hehe.

Album perdana ZATPP sekaligus produk pertama Black Morse Records. Ini pertanda bagus. Berarti, label-label kecil akan semakin banyak pilihan. Tidak didominasi Aksara dan FFWD. Berarti seleranya akan semakin bervariasi. Setelah Sinjitos Records, kini ada pilihan baru dari Black Morse Records.

Saya tak tau, apakah Holly City Roller [kurang tau juga, bagaimana mengejanya, saya males browsing juga.], yang jadi band pembuka malam itu, akan ditarik oleh Black Morse Records. Mereka cukup menjanjikan. Rock n’ roll band dengan sound tipikal yang bakal disukai majalah NME. Sekilas dilihat dan didengar sih, belum terlalu istimewa buat saya. Mungkin karena sudah sebal dengan namanya yang mirip dengan Bay City Roller.

Artistik sampul album “Space…” juga menarik. Seniman muda berbakat dari Bandung yang mengerjakannya. Sir Dandy alias Acong, yang katanya rock n’ roll band-nya, Teenage Death Star akan segera rilis album perdana di bawah FFCUTS. Acong ini rupanya seniman muda yang sangat disegani oleh hipsters ibukota. Hehe. Kidding. :p

Intinya, paket musik dan artistik album “Space…” saling menguatkan satu sama lain. Dan setidaknya, saya masih boleh berbahagia pada musisi-musisi lokal kita. Setelah “Serigala Milita,” bertambah satu lagi yang bisa dibanggakan dari produk lokal kita.

Mudah-mudahan bertambah banyak.

Sunday, September 09, 2007

Rock Telah Memilih Kami!




atau
Pesta Para Serigala yang Penuh Keringat dan Kopi Darat Penghuni Multiply.

Judul itu, merupakan penggalan kalimat yang selalu diucapkan Arian ketika diwawancarai jurnalis. Saya kurang yakin, apakah kalimatnya tepat seperti itu. Yah, kalau salah, Arian kan bisa mengoreksi di bawah tulisan ini, melalui reply. Hehe.

Yang jelas, waktu konferensi pers Sabtu [8/9] sore kemarin di Viky Sianipar Music Center dalam rangka launching album “Serigala Militia” pun, dia mengucapkan kalimat itu lagi.

Tak banyak jurnalis yang datang. Entah karena hari Sabtu. Entah karena yang diundang memang tak banyak. Entah karena nama Seringai belum menarik buat sebagian besar jurnalis. Dengan begitu, yang bertanya pun tak banyak. Seingat saya, hanya tiga orang; Joko Rileks.Com, Andre Stroo Audio Pro, dan seorang jurnalis perempuan yang bertanya soal bagaimana rupa para pacar Seringai.

Sebagai sebuah tempat pertunjukkan musik, Viky Sianipar Music Center cukup representatif. Punya ruang tunggu yang luas. Kamar mandi yang cukup bersih. Mushola yang mudah dijangkau. Dekat dengan warung makan. Walaupun kekurangannya mungkin, parkir mobil yang tak begitu luas.

Kalau soal lokasi geografis, jauh dekat itu relatif. Tapi, dia mudah dicari. Ada di pinggir jalan. Bahkan, ada papan penunjuknya pula, kalau kamu datang dari arah Pancoran. Dia dekat dengan Terminal Bis Manggarai. Dan kalau dulu sih, dekat dengan klinik permak wajah Haji Jeje.

Sejak jam enam sore, orang-orang sudah berdatangan. Walaupun baru lewat jam delapan malam acara benar-benar dimulai. Seperti biasa, lelaki mendominasi jumlah pengunjung. Tapi, kemarin, cukup banyak juga perempuan wangi dan menarik yang datang.

“Sex, drugs and rock n’ roll itu cuma mitos buat Seringai. Karena biasanya, di backstage kami, malah ada cowok mabuk telanjang dada, berkeringat, meminta stiker,” kata Arian.

Saya bertemu dengan beberapa penghuni multiply juga. Riki Gede yang pertama menyapa saya. “Soleh Solihun ya? Gue Riki Gede,” katanya membuka pembicaraan.

Dan Riki memang gede. Walaupun di headshot, dia terlihat seperti pemuda kaku, tipe pegawai kantoran yang sehari-hari memakai kemeja dan celana bahan buat kerja, tapi ketika bertemu langsung, kesan itu hilang. Riki jauh lebih muda dari yang saya bayangkan. Dan tidak seserius yang saya kira. Maklum, imej hukum yang melekat di dirinya, membuat kesan saya akan rikigede.multiply.com cukup serius. Hehe.

Itu kali pertama saya bertemu langsung dengannya.

Selain Riki, saya juga bertemu dengan Dhendy, gitaris handal pemilik dhendy.multiply.com secara langsung. Saya kira, Dhendy tipe laki-laki berkulit putih yang gerak-geriknya berwibawa atau kalem lah minimal. Ini gara-gara lagu “This Be Over” dia sebenarnya. Ternyata, Dhendy tipikal lelaki rock fans juga. Haha.

Kalau yang lain sih, saya sudah pernah bertemu dan kenal cukup lama; Ryan Koesuma, Dedidude [sang fotografer senior di multiply :p], Reza si pelacurkorporat, Dita Santa Monica, dan teman-teman Tetta seperti Alin dan Tya.

Nah, sekarang ke pertunjukkannya.

The Authentics menjadi band pembuka. Vokalis mereka, Dawny adalah Road Manager Seringai. Dulu, dia lebih dikenal publik sebagai vokalis Jun Fan Gung Foo. Kalau mau tau lebih jelas, deskripsi musik mereka, silakan lihat posting-an saya soal event ini. Lalu ada Ghaust, Dead Vertical, dan Adrian Adioetomo.

Riann Pelor, jadi MC dadakan. Saya kurang tau, seharusnya siapa MC malam itu. Seperti biasa, Pelor banyak bicara. Entah berapa kata “ngentot” diucapkannya malam itu. Tapi, karena Pelor, pergantian antar kelompok musik jadi meriah.

Pelor tak menyaksikan seluruh pertunjukkan Seringai malam. Baru sekira dua lagu, Pelor terduduk di sebelah amplifier. Dia tertidur. Tak sadarkan diri. Sampai tulisan ini dibuat, saya tak tau bagaimana akhir dari kisah Pelor malam itu.

Lantai dua Viky Sianipar Music Center yang dijadikan tempat pertunjukkan, terisi cukup penuh. Setidaknya, sampai belakang, masih banyak orang. Saya tak tau berapa jumlah penonton malam itu. Tidak terlalu padat memang. Saya masih bisa berjalan dengan mudah di antara kerumunan orang. Dan ini enak. Karena ruangan jadi tak terlalu panas, membuat mudah bernafas, tapi tidak terlalu sepi juga.

Di tengah-tengah lagu “Alkohol,” Arian membawa selang dan corong yang biasa digunakan untuk minyak tanah. Membagikan bir kepada penonton. Seorang lelaki naik panggung. Dan fifi pemilik fififurfairy.multiply.com jadi relawan perempuan.

Saya tak tau mereka berteriak apa.

“Choke! Choke! Choke! Choke!”

Telinga saya sih mendengarnya begitu. Silakan koreksi untuk kata yang lebih tepat. Tapi, sepertinya sebagian besar dari mereka tau benar apa yang diteriakkannya. Di momen itu, saya jadi bertanya-tanya. Mungkin karena saya tidak minum bir, saya tak tau istilah itu. Atau, mungkin itu pernah populer oleh film dengan tema minum bir.

Jam sebelas lewat [entah lewat berapa, pokoknya lewat lah], pertunjukkan berakhir. Dan serigala-serigala itu, pulang ke kandangnya masing-masing. Haha. Anjis. Jelek banget kalimat penutupnya.

Yah sudahlah.

Friday, September 07, 2007

SERINGAI 'Serigala Militia' album launching party!

Start:     Sep 8, '07 7:00p
End:     Sep 8, '07 10:00p
Halo semuanya.

Just a quick reminder, tanggal 8 September ini SERINGAI akan launch album terbaru, ‘Serigala Militia’. Detail acara ada dibawah message ini. Ada 4 supporting act yang menarik dan keren, jadi sebisa mungkin datang dari awal acara, jam 7 malam. Dan, 100 orang pembeli tiket pertama akan mendapatkan skull bandana, jadi sebaiknya jangan sampai terlambat. Kalau tertarik, bawa uang ekstra karena kami akan menjual beberapa merchandise terbatas untuk event ini di venue. Sekarang, mari kita simak beberapa deskripsi tentang para pengisi acara:

THE AUTHENTICS
Band ska/soul/rocksteady yang sudah akrab di Jakarta. Mereka sedang menyiapkan album untuk rilis tahun depan. Dikomando oleh Dawny, road manager Seringai, dan Danny dari band metalcore StraightOut, band ini ter-influence musik dari Skatalites, The Slackers sampai ke Robert Johnson, John Lee Hooker. Blues-rooted, yet ska-rooted too. In the end, you have to know your roots, right?

www.myspace.com/wearetheauthentics

GHAUST
Instrumental metal, dan sedikit sludgy. 2-piece band yang menarik dan berat. Demo lagu-lagunya dapat diunduh di profile myspace mereka. Berawal untuk memiliki vokalis, namun sampai mereka merekam beberapa demo mereka, akhirnya diputuskan untuk menjadi sebuah band instrumental saja. Ghaust sendiri sedang mempersiapkan album perdana mereka, ‘Defeating Earth’s Gravity’. Heavy shit.

www.myspace.com/soundofghaust

DEAD VERTICAL
Grindcore’s most promising act. Bermain tight dan straight in your face, Dead Vertical menghajar tanpa kompromi. Mereka baru saja membuka konser Napalm Death minggu lalu, dan sebuah kehormatan bagi kami mereka mau bermain dalam album launch party Seringai. Mereka sedang menyiapkan sebuah album perdana dengan label rekaman metal, Rottrevore Records.

www.myspace.com/verticaldead

ADRIAN ADIOETOMO
Bisa jadi Adrian adalah satu-satunya musisi delta blues di Indonesia. Mengingatkan kepada era musik blues baru berkembang, gitaris solo ini belum lama merilis sebuah album, ‘Delta Indonesia’ dibawah label My Seeds Records. Chris Whitley, Howlin’ Wolf, 50’s Muddy Waters, menjadi influence musisi ini. And guess what? There are things more to come from Adrian Adioetomo!

dan tentunya,

SERINGAI
Setelah merilis mini album ‘High Octane Rock’ 3 tahun silam, Seringai kembali dengan album baru, ‘Serigala Militia’. Berisi 11 lagu, sepertinya Seringai membuktikan bahwa Indonesia memiliki musik rock yang intens dan live up to their name, bukan sekedar sebuah album ‘rock’ yang ternyata kebanyakan berisi lagu-lagu yang kompromis dengan the so-called selera pasar. Singlenya, “Citra Natural” sudah diputar oleh radio-radio dan videonya belum lama diputar di MTV. Energi tinggi dan intensitas maksimum, adalah ciri khas band rock ini, dan tentunya selalu dapat kalian buktikan saat menyaksikan mereka secara live. Mengembalikan kembali the heydays of rock music terutama secara lokal. Mari mengembalikan musik rock kepada kaidahnya. Hahaha.

www.myspace.com/highoctanerock

So, we hope to see you here and have good fun together!

HighOctane Production & Universal Music Indonesia Present

SERINGAI
'Serigala Militia'
Album Release Party

Saturday, 8 September 2007
Viky Sianipar Music Center
Jln Minangkabau Timur No 43,

Manggarai, Jakarta Selatan
Phone 021-8297777

From 7.00 PM – 10.00 PM

Cool other acts rocking the stage: ADRIAN ADIOETOMO, DEAD VERTICAL, GHAUST, THE AUTHENTICS


The first 100 ticket buyers at venue will get one cool Seringai ‘skull bandana’ for free! Seringai’s Serigala Militia CDs and shitload of merchandise will also be made available, so prepare extra cash folks.



We will see you wolves at the pit!


This rock event is supported by: Trax FM, Rolling Stone Magazine, Massive Music, Sonora FM, Otomotion FM, EAT, Migraph, Ripple Magazine, Mosh! Magazine.


Please spread, thank you.

DAN PAKAILAH BANDANA KALIAN DI SANA! KARENA SAYA AKAN MENGUMPULKAN FOTO KALIAN PARA PEMAKAI BANDANA!

Tuesday, September 04, 2007

Hidup Hanyalah Satu Pengulangan ke Pengulangan Berikutnya

Hidup itu seperti cerita dalam jagoan-jagoan buatan Jepang.

Kamu tau kan, cerita-cerita macam Ultra Man, Ksatria Baja Hitam, Power Rangers dan sejenisnya. Coba perhatikan. Ceritanya sebenarnya sudah ada template-nya. Makanya, kalau kita saksikan dari satu episode ke episode lainnya, semuanya kurang lebih serupa.

Ada monster datang. Mengancam kota. Dalam beberapa cerita, monster yang tadinya kecil itu, terus nyaris bisa dikalahkan, tau-tau dibuat menjadi besar. Di akhir cerita, jagoan kita berhasil menghabisi monster. Dan sekali lagi, kota terselematkan dari bahaya. Dan tokoh-tokoh jahat kesal dibuatnya.

Hanya dialog, jenis monster, dan tempat perkelahian saja yang berbeda. Tapi, semuanya merupakan pengulangan dari episode sebelumnya.

Hidup juga begitu. Saya rasa, kita hanya menjalani template kehidupan yang telah dibuat Tuhan. Ini bisa jadi, mendukung teori reinkarnasi. Ada yang percaya kita pernah menjalani kehidupan sebelumnya. Saya agak percaya juga teori itu. Mungkin saja, di kehidupan lain, kita menjalani template yang berbeda dengan yang sekarang.

Hidup ini hanya pengulangan. Persoalan manusia dari dulu kan selalu sama. Contoh paling sederhana, kita perhatikan saja lirik lagu cinta. Dari jamannya The Beatles, hingga sekarang. Persoalannya selalu sama. Dan kalau dipikir-pikir, semua lagu tentang cinta, sudah pernah ditulis The Beatles dengan banyak sudut pandang.

Contoh paling sempit lagi, kampus. Persoalan mahasiswa menjelang tahun ajaran baru, selalu sama; ospek. Dekanat tidak setuju dengan konsep ospek. Ada kelompok tertentu yang menganggap ospek dekat dengan kekerasan. Dan blablabla persoalan lainnya yang selalu sama dari tahun ke tahun. Lagi, sebuah template.

Ah, jadi melantur. Kembali ke soal kehidupan.

Saya jadi teringat, omongan seseorang [saya lupa siapa, antara guru di sekolah, atau guru ngaji]. Entah itu teori dia. Entah memang benar ada ayat yang mendukung. Katanya, kehidupan di dunia yang sekarang kita jalani, adalah fase yang ke-10.000. Artinya, ada 9999 kehidupan sebelum kehidupan sekarang. Dan saya pernah baca, soal global warming yang katanya fase-nya belasan ribu tahun. Ini lagi-lagi mendukung teori template.

Mungkin sebentar lagi dunia kiamat. Bumi hancur. Alam semesta juga hancur. Lalu, dibuat kembali. Dan roh orang-orang yang tadinya sudah di alam baka, diambil lagi oleh Tuhan. Ditiupkan kembali ke dalam tubuh manusia-manusia di fase kehidupan berikutnya. Untuk menjalani peran yang berbeda.

Dan cerita berulang kembali. Hanya dengan para pemain yang berbeda. Tapi, skenario dan sutradaranya sama. Tidak terlalu sama memang, karena Tuhan memberi peran yang lain, dengan cerita yang lain. Tapi pada dasarnya, semua hanya pengulangan. Tapi sayangnya, manusia kadang melakukan kebodohan yang sama.

Atau mungkin, sebenarnya Tuhan sedang mencari format kehidupan yang sempurna. Dan kita hanya bahan percobaan Nya. Makanya, Dia mencoba memasangkan roh ini di karakter itu, lantas di kehidupan berikutnya dicoba dengan karakter yang lain dan cerita yang lain. Bayangkan. Ada berapa kombinasi pemain dan karakter yang harus dicoba untuk sampai pada tahap sempurna.

Ah, tambah bingung jadinya. Hidup oh hidup. Hahaha.

Monday, September 03, 2007

Kompromi Demi Nasi

“Album kami yang berikutnya, bakal kayak Ungu, Leh,” katanya pelan.

Yang mengeluarkan kalimat tadi, salah seorang personel dari kelompok musik. Majalah Trax sempat menulis beberapa kali soal mereka. Arian, yang merasa musik mereka bagus, seperti juga saya, waktu itu memberi porsi yang cukup banyak buat mereka. Kami ingin mendukung mereka. Yah, minimal membantu memromosikan album mereka.

Saya tak akan menyebut nama mereka. Sebenarnya, mengutip perkataannya tanpa ijin sudah tidak etis. Makanya, saya samarkan, biar sedikit mengurangi rasa bersalah. Tak akan pula menyebut genre musiknya. Karena sudah jarang kelompok musik yang memainkan musik seperti mereka, sekarang. Yang jelas, mereka bagus. Memang, komposisi musiknya, bukan tipikal yang bakal langsung hinggap di telinga. Butuh waktu. Dan memang, cenderung terlalu rumit, berat, serius. In a good way, sebenarnya.

Lirik mereka penuh perenungan. Kontemplatif. Si penulis lirik bercerita pada saya, kalau mereka tidak ingin lirik mereka tidak bermakna. Si penulis lirik mengagumi lirik-lirik Arian. Dia bilang, Arian bisa membuat lirik berbahasa Indonesia, dengan bagus. Saya juga melihat dia punya potensi menawarkan tema lagu yang berbeda untuk industri musik Indonesia.

Walaupun, agak terlalu berat sebenarnya. Biasanya, kelompok musik yang sudah mengeluarkan beberapa album, mengeluarkan lirik-lirik kontemplatif seperti itu. Dengan kata lain, seiring bertambahnya usia si penulis lirik. Tapi, mereka sudah melakukannya di album pertama.

Saya waktu itu, agak terkejut juga, ketika si label mau merilis album perdana mereka. Dan bersyukur, setidaknya, mereka dari label besar masih mau percaya pada kelompok musik seperti mereka. Yang tidak bernyanyi soal cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Yang tidak mendayu-dayu, khas Melayu. Yang saya tangkap, mereka tak ingin seperti banyak kelompok musik lain di Indonesia.

Setidaknya, sampai saya bertemu lagi dengan salah seorang dari mereka, kemarin.

Memang, sebelumnya, saya pernah dengar dari si penulis lirik, kalau si bos label ingin agar si penulis lirik menulis lirik cinta-cintaan. Jangan terlalu serius. Waktu itu, si penulis lirik hanya cengengesan ketika bercerita soal itu. Saya menangkap kesan, kalau dia masih tak setuju dengan ide itu. Atau, setidaknya, masih berpikir dua kali untuk melakukan itu.

“Anak-anak kan sekarang udah ada yang berkeluarga juga Leh. Yah, minimal, kami melakukan ini buat memertahankan band supaya jangan bubar aja,” kata si personel yang bertemu dengan saya kemarin.

Perasaan saya, campur aduk. Ada sedikit rasa iba. Ada juga perasaan, yah wajar lah namanya juga industri. Selama mereka senang, kenapa tidak? Tapi, ketika si personel itu mengeluarkan kata-kata itu, sambil tersenyum miris, saya menangkap kesan, kalau mereka sebenarnya agak terpaksa juga mengambil langkah itu.

“Sekarang, liriknya yah aku padamu aku padamu. Si penulis lirik juga banyak baca chicklit sekarang. Dan nada vokalnya sekarang melengking melulu,” laki-laki itu tertawa.

Saya tak tau, dia tertawa karena menganggap hal itu benar-benar bodoh. Atau karena tertawa dalam kesedihan. [Haha. Saya seperti yang berlebihan ya. Maafkan].

Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label tidak menaruh beban yang begitu besar pada mereka. Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label masih mau memercayakan mereka untuk membuat musik yang mereka keluarkan dari hati. Bukan musik yang dibuat karena terpaksa. Ke mana rasa percaya itu?

Atau, mungkin setelah mereka merilis album dengan “musik seperti Ungu” dan meledak, punya banyak uang, mereka tak jadi bubar, lantas menikmati membuat musik begitu, yah saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain ikut berbahagia buat mereka.

Tapi, kalau saja, ternyata “musik seperti Ungu” yang mereka buat tak lebih baik dari musik di album terdahulu mereka, juga tak lebih baik dari musik Ungu, akibatnya tak laku dijual, hingga membuat mereka benar-benar bubar, wah disayangkan sekali ya.

Ini membuat saya bertanya-tanya. Berapa banyak kelompok musik yang dalam karirnya mengambil langkah seperti mereka? Saya sering dengar memang soal ini. Tapi, terus terang, ini kali pertama, seorang musisi berkata jujur soal itu kepada saya. Dan mendengar langsung, terasa lebih sedih dan terenyuh.

Kalau memang dari awal mereka ingin membuat musik yang seperti itu, cinta-cintaan dan laku dijual, saya mungkin tak akan sedih mendengar keputusan mereka untuk “membuat musik seperti Ungu.” Tapi ini, ya itu tadi. Saya masih ingat waktu pertama kali mewawancarai mereka. Penuh semangat. Sangat yakin pada musik yang mereka buat. Ingin menawarkan pilihan lain. Ingin jadi pusaka di industri musik Indonesia.

Ah, sialan. Saya lagi-lagi berlebihan. Apapun yang terjadi, saya doakan mereka mendapatkan yang mereka cari.